31 December 2012

#ReviewnyahToskah: The Twilight Saga - Breaking Dawn Part. 1

Wah, sudah tanggal 31 Desember. Officially the last day of 2012! Gimana semuanya? Sudah beli terompet? Yang bentuk apa modelnya? Yang ada naga-nagaannya? Yang macam Saxophone? Atau yang kayak terompet di Si Doel Anak Sekolahan? Aduh ngapain sih taun baru gini masih niup terompet, saya aja rencananya mau pake sirine ambulans kantor saya untuk menyambut tahun baru.. Mungkin yang kerja di Dinas Pemadam Kebakaran bisa pakai sirine blangwir-nya untuk menemani saya? Kan pantang pulang sebelum padam......semangatnya.
*dilindes ambulans*

Untuk menyambut tahun baru 2013 nanti, kalian pasti sudah punya acara sendiri-sendiri, dong? Seperti layaknya anak-anak mainstream, saya pun sok-sokan punya cara sendiri yang anti mainstream untuk menyambut tahun baru, yaitu......Nonton The Twilight Saga: Breaking Dawn Part. 1.
*sisiran*
*dijambak*
Ah, sudahlah. Kalian tidak mengerti saya. Sudah, sana. Kalian tinggalkan saya aja. Bungkus barang-barang kalian, lupakan segala kenangan yang telah terjadi di antara kita. Kebersamaan ini, momen-momen berharga yang sebenarnya tidak ada karena blog ini merupakan sampah adanya. Pergi kalian. Pergi!
*hening*
EH PADA MAU KEMANA INI SAYA BARU MAU NULIS BENERAN! SINI SINI SAYA PUNYA NASI UDUK SAMA ES DOGER!!
....
Nah, gitu dong. Kalo rame-rame gini kan saya enak ceritanya. Nah, langsung aja ya? Oke. Here we go.

pic source
The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1. Saya juga bingung kenapa pake dibagi 2 part gini. Mungkin hendak mengulang kesuksesan dari Harry Potter And The Deathly Hallows yang dibagi menjadi 2 part.
*pembela Harry Potter garis keras. Sekeras cintaku padamu. Tsah*
Film ini menceritakan tentang Edward dan Bella yang akhirnya kewong a.k.a kimpoi a.k.a menikah. Ihiy!
Awal film dibuka dengan adegan Jacob yang ngambek keluar rumah di tengah hujan dan membanting undangan pernikahan Bella sama Edward kemudian lari ke hutan. Sungguh dramatis. Saya mengira akan ada Nikita Willy menunggunya di tengah hutan. Ternyata saya salah. Saya lupa kalau Nikita Willy nggak mau syutiing di tengah hutan. Banyak nyamuk, katanya.
*digampar pake sepatu Louboutin*
Lalu adegan-adegan persiapan pernikahan endebrai endebrei gitudeh. Sampe si Edward manjat ke kamarnya Bella lewat jendela terus dijemput temen-temennya buat Bachelor Party. Gue baru tau vampir bisa funky juga. Terus gue mikir, kok si Bella gak bikin Bachelorette Party, ya? Apakah dia segitu gak punya temennya? Apakah dia hanya gadis desa yang tak tahu apa-apa? Apakah jangan-jangan dia lupa kalau keesokan harinya adalah hari pernikahannya? Oh, Bella, Bella, Bella... Dapet salam dari Nikita Willy.
*dikibas bulu mata palsu*
*kelilipan*

Nah. Kemudian tiba saatnya ke saat pernikahan. Dress-nya bagus, bok! Gak kayak wedding dress biasanya yang tube dress mamerin bahu kemana-mana gitu, tapi ini model lengan panjang. Mungkin disesuaikan dengan venue pernikahannya yang berupa hutan, kan banyak nyamuk tuh. Apalagi kan kita semua tau kalo nyamuk kebon ukurannya geda-geda. Saya suka aksen backless yang dilapis lace-lace durjana gitu. Untung semalem sebelumnya Bella gak kerokan.....OH! MUNGKIN ITU MAKSUDNYA DIA GAK NGADAIN BACHELORETTE PARTY! Dese takut masup angin terus kudu kerokan, bok! Bella, kamu ternyata sedikit lebih pintar dari Nikita Willy :')
Lalu terjadilah pernikahan itu. Begini kalau dirampung.
*sebelum pernikahan*
*terjadi percakapan-percakapan sedih antara Bella dan emak bapaknya*
*adegan temen-temennya Bella nyangka dia hamil karena dia baru umur 18 udah nikah. Oh, dia bukan hamil, cewek-cewek. Dia cuman kebelet kawin*
*saya laper kepingin martabak telor*
*adegan pernikahan. Bella digandeng bapaknya menuju altar, Edward senyum-senyum mupeng*
"I do"
"I do"
*mereka ciuman*
*saya mupeng. Gak, deng*

Lalu skip skip skip sampai akhirnya.....HONEYMOON DAY!!
Jeng jeng.
Saya udah expect kalau honeymoon-nya ini akan banyak adegan persetubuhannya YA SECARA JUDULNYA HONEYMOON KALO JUDULNYA UMROH MAH YANG BANYAK ADEGAN  NGAJI! HERAN DEH GUWEHHH~
Dibawa ke pulau sendiri gitu. Isinya cuman mereka berdua. Si Bella keliatannya seneng, saya sih males, soalnya di sana gak ada Indo Maret atau Alfa Mart. Entar kalo saya laper tiba-tiba pingin makan Mie Gemezz, gimana? 
*dikubur hidup-hidup di tumpukan Mie Gemezz*
Anyway, ini penampakan Mie Gemezz-nya. Saya doyan, aslik.

pic source

25 December 2012

#ReviewnyahToskah: Habibie & Ainun

Sore tadi, saya ke Epicentrum Walk. Buat apa? Ya buat ngukur aja berapa meter persegi space kosong di situ yang bisa dipake buat saya goler-goler di kala waktu senggang menghampiri dan kebosanan melanda..
*dilindes kereta*
Nggak, deng. Saya ke sana bareng Alex sama Abdi. Kami bertiga bingung mau ngapain lagi karena jadwal roadshow dan jumpa fans lagi lowong, juga lagian kan kemaren Victoria's Secret Fashion Show 2012 di New York juga alhamdulillah udah sukses tergelar, jadi kami sebagai model-modelnya merasa memiliki hak untuk take a break sebelum work out lagi untuk jalan di runway Victoria's Secret Fashion Show 201.............PANJANG YA BOK INTRO NULIS BEGINIAN DOANG!
*tampar diri sendiri*
*akibat kelamaan nggak ngeblog*

Nah, pemirsa. Pada postingan tengah malam ini, saya hendak kembali menulis........REVIEW SUKA-SUKA! Jeng jeng, jeng jet! Setelah terakhir Review Suka-Suka ini berakhir di The Raid dan emang abis itu saya belom nonton di bioskop lagi maka kali ini saya akan menulis review tentang..........

pic source

Hyak. Film yang saya pikir akan biasa aja karena saya belom pernah liat aktingnya Reza Rahardian dan BCL (bok, I don't go to movies that often), ternyata, ketika filmnya mulai, saya. saya, saya..........merasa gagal sebagai insan penikmat film Indonesia.
Oke. Begini rekonstruksinya:
*kami bertiga sudah duduk di dalam teater. Iya, dong. Kalo duduk di kelas namanya kuliah*
*iklan gak penting*
*iklan gak penting*
*orang depan gak sengaja ketemu temennya di bioskop dan heboh beneur*
*filmnya mulai*
Kita skip aja adegan-adegan awalnya, ya. Lalu, muncullah Reza Rahardian. Iya, dong. Kalo yang muncul Daniel Craig mah itu namanya saya nonton James Bond.
*ditembakin pembaca*
Reza Rahardian muncul, adegan-adegan pembuka ini dan itu, sampai akhirnya........dese ngomong.
Saya terdiam.
Bengong.
Terus langsung senggol-senggolan sama Alex. BOK! DESE PINTER BANGET NIRUIN PAK HABIBIE BENERANNYAAAA! Dari gaya bicara, gestur tubuh, cara berjalan, sampe........the way he stares.
Awalnya saya nggak ngeh sampe segitunya karena udah heboh terkagum-kagum sama skill-nya menjiwai peran, sampe akhirnya Alex nyenggol saya dan bilang, "Look at his eyes".
Saya cuman manggut-manggut bego dan memperhatikan matanya langsung. Ya saya pikir ada belek atau maskara-nya menggumpal gitu, ternyata......saya masih gak ngerti.
Emang saya ini penonton awam yang koneksi otaknya lebih lemot dari dialling 0809 8 9999, pemirsah. Tapi saya pura-pura ngerti aja di depan Alex. Tapi, lama kelamaan filmnya jalan terus, sampai akhirnya tibalah ada si Reza Rahardian ini disorot close up mukanya.
Dan saya ngeliat matanya. Mata Reza Rahardian, bukan mata Alex.
*digampar*
Well you may call me "lebay" here, tapi ketika ada close up shoot-nya itu, saya langsung kebayang wajahnya Pak Habibie, matanya.
ANJIS GUE BARU NGEH! The way Reza Rahardian stares is just like EXACTLY the way Pak Habibie stares. Saya sampe sebelum nulis postingan ini YouTube dan googling foto-foto dan video-nya Pak Habibie, and I wasn't wrong. Yes, baby, Reza Rahardian is THAT good!
*terkagum-kagum sampe ileran*

Kemudian muncullah adegan-adegannya sama BCL. Well saya nggak tau ya ini perasaan saya aja atau emang ada dari kalian yang ngerasa juga kalo BCL di sini tuh "kurang". Bukan, bukan kurang kurus karena masih muncul double-chin, tapi ya kurang aja. Nggak maksimal aja gitu aktingnya. Satu-satunya aktingnya dia yang menurut saya dan Abdi pas adalah ketika ada adegan di rumah sakit di Jerman, ketika diceritakan Ibu Ainun mau meninggal. Dia gak ngomong, cuman matanya ngedip-ngedip doang sama mulutnya megap-megap. Nah, di situ aktingnya bagus. No offense here, but I expect it was Dian Sastro who played the role as Ibu Ainun.

11 December 2012

11-12-12

pic source

I woke up this morning with a huge smile on my face.
The morning felt good, the sun felt so warm, the scent of the air smelled so fresh.
I didn't know what's happening, then I looked at the date,
and realized,
that today, is a special day.

My mind automatically rolled to one year ago,
when we, brokenhearted people, found each other.
It was a little yet short conversation. 
No, it wasn't even a conversation. It's a formal interview.
You with your black tie, and I with my black office dress.
I looked at you, a pair of amazing eyes, 
and simplicity around your personality, like you know I don't like anything too much.

Then I was brought into the memories when our first kissed happen. 
It was warm and comforting. Your lips are so tender. I love the way you caressed me. I love the way you didn't let me go even an inch from your hand. I love the way you smiled after we kissed. Your signature silly smile. I thought the kiss was nothing, until you embraced my waist and kissed me on the forehead.
"Babe", you said.
Again, you smiled,
And I knew that you knew,
that that's the moment we started to want each other,
love each other.

People keep "mocking" me that I only waste my time. They're underestimating me. They look at me with their eyes closed. They say, the distance and differences that we have won't make us stand. That people like you (sailors, I mean) will NOT keep the faith we (the girlfriends' of them) put on you. One of them even said that we wouldn't stand until the end of November. How "cruel" they are, no? :))

Now it's been 6 months since you're away, and we're okay. I still have the faith of us, still feel the sparks everytime you come with your messages, like you appear in front of me. I don't care of what people saying. I believe in you, I believe in us. That we're going to work well, that we will finally hold each other's hand in a happy face and silly smile, realizing that love brings us this far, and grateful..

:)

Happy first anniversary, K. Come home soon and let's celebrate the joy of having the word "us" in our lives.

Love,
-A-

29 November 2012

A letter of nothing

The day went well and busy, until I sat on my chair and looked at our picture..
And I finally admit, that I miss you so much.
The absence of your presence nowadays kills me slowly.
I know you've been busy because it's nearly close to Christmas, because I'm here too. Meetings all the time, writing the minutes of them, also feel really sleepy everytime :))

I'm still in the office, working on some slideshows will be presented on next Monday and I have to finish them now so I don't have to work on Saturday, and yes you know I hate working on Saturday, so, here I am now. Just finished doing them and had some cigarettes.
You know, when I decided to write this post, I knew that this was going to be useless. Because I know you won't read it, and anyone won't give a fuck to everything I'm writing. So... yeah. Whatever. The picture of us that took *almost* a year ago, was the first one we had on our relationship. And I'm so glad to re-calling the memories, to remember how silly we were, how you held my hand on the first time, how you kissed me. How I couldn't hold the desire. How I wanted you to stay here with me. Also it caused a little hole in my heart that we can't really be together..

Kata Ivana, salah satu sahabat saya, kemungkinan LDR itu ada 2:
Kalau tidak terbayar, ya buyar..

23 November 2012


My straightforward boyfriend just being straightforward. Well..

22 November 2012

17 November 2012

pic source

I want this. Kissing you under the rain.

14 November 2012

Break the curse: November

Beberapa bulan yang lalu, saya diramal oleh sepupu dari salah satu teman saya.
Katanya, hubungan saya dan Kadek akan berakhir pada akhir November.
...
Sebentar, sekarang kan..............bulan November?
*glek*

Walaupun antara percaya dan nggak percaya, tetep aja mules. Saya nggak bisa bohong, beberapa minggu terakhir ini memang hubungan saya dan Kadek tidak semulus sebelumnya. Komunikasi semakin jarang, berantem semakin sering. Bahkan sebelum saya diramal seperti itu, kami sudah sering cekcok mulut. Mending deh ciuman, ini berantem. Rasanya pingin berenang ke Meksiko terus gamparin Kadek sambil teriak-teriak kalo saya tuh kangen. Tapi sebelum berakhir di penjara lokal Meksiko dan hidung saya dicekokin cabe, kewarasan saya menarik saya kembali ke kenyataan untuk mengundurkan diri dari niat tersebut.

Saya belum bilang apa-apa sih sama Kadek mengenai ramalan ini, karena saya tidak mau menimbulkan sugesti aneh-aneh di pikirannya dan saya juga tidak mau Kadek menganggap kalau pacarnya mulai gila. Lagipula, kami mulai meninggikan toleransi satu sama lain. Saya yang tadinya kerjaannya protes-ngomel-demo melulu karena tidak lagi menjadi prioritas dibandingkan pekerjaannya mulai melunak dan lebih mendengarkan. Sementara bapak yang satu itu juga mulai lebih menaruh perhatian walaupun tidak sesering yang selalu saya teriakkan ke dia. But then, things get better anyway :D

Kemarin saya juga sempat sakit. Gejala typhus dan tumbuh gigi geraham paling belakang di waktu yang bersamaan. Memaksakan masuk kerja selama 2 hari tapi akhirnya ambruk di hari ketiga dan beristirahat di rumah 2 hari juga. Kebetulan nggak masuknya hari Rabu dan Kamis, waktunya Kadek menghubungi saya. Dia banyak bertanya dan terdengar khawatir ketika tau kalau saya sakit mengingat pacarnya ini jaman dulu waktu masih sekantor sama dia nggak pernah sakit. YAIYALAH KETEMU TIAP HARI SARAPAN MAKAN SIANG MAKAN MALEM BARENG TIAP HARI DIJEMPUT PULANG KANTOR DITUNGGUIN DI DEPAN LIFT TERUS CIU.............sebaiknya postingan ini tidak diteruskan lagi. Saya akan dituntut komnas perlindungan anak kalau terus menuliskan bagian itu. Sudah, adik-adik di bawah umur, bobok sana bobok. Ini sudah malam.
*selimutin satu-satu*
*matiin lampu*
*tutup pintu kamar*
Sampai mana saya tadi nulis? Oh iya, ciuman di dalam lift. WAIT, FUCK I DIDN'T EVEN WRITE IT DOWN IN PREVIOUS PART! Oh baiklah, mari berdoa semoga dedek-dedek di bawah umur tidak membaca bagian ini karena udah pada bobok semuanya.
*disambit Kak Seto*

09 November 2012

Keinginan saya untuk memeluk kamu belum pernah sebesar ini. Kemampuan saya untuk menahan airmata untuk tidak jatuh ketika saya rasa saya butuh kamu sekarang juga belum pernah sepayah ini. Kemauan saya untuk menahan ego dan tidak menuliskan apa-apa tentang kamu belum pernah dikalahkan sekalah-kalahnya seperti ini.

3 bulan lagi, Sayang. Cepat pulang..

08 November 2012

"Ada, Ma. Tapi Hindu.."

Saya menyayangi kamu dari semua hal yang kamu punya.Kekuranganmu, kelebihanmu, semuanya.
Kamu yang tidak banyak berekspresi, kamu yang cemburuan, kamu yang penyayang, kamu yang pekerja keras, kamu yang keras kepala, kamu baru bangun tidur, kamu sudah mandi, kamu lagi kelaparan...
Rasanya seperti membaca buku. Sebuah buku yang tidak habis-habis lembarannya saya baca. Kalau bisa diberikan judul, mungkin judulnya akan "Ensiklopedia Kadek: Jangan dibaca jika Anda tidak benar-benar menyayanginya". Buku itu akan berisi tentang kamu. Tentang jarak, tentang benua Amerika, tentang perbedaan waktu, tentang apa makanan kesukaanmu, tentang apa yang kamu suka dan tidak suka....
Saya awalnya tidak benar-benar menyayangi kamu.
Saya pikir kita hanya akan berhenti pada batas "Profesional". Tapi semua hal yang kita perbincangkan, dentingan botol bir dan butiran popcorn, logat bicaramu yang sangat kental, kedua bola matamu, ejekan-ejekan khas yang keluar dari mulutmu, kebutuhan untuk menemanimu main futsal, semua mendadak berputar balik menyerang saya dan berbaris rapi menyiapkan amunisi untuk membuat saya benar-benar menyayangi kamu.

02 November 2012

There will be..

There will be the time,
when there's only you and I,
sitting beside each other,
cuddling.

There will be the time,
when there are we and chaosy,
standing in front of each other,
arguing.

There will be the time,
when there's only me,
laying my back on the ground,
feeling lost.

There will be the time,
when you come,
to take me out of this loneliness,
or not.

You decide.

01 November 2012

Mimpi semalam

Semalam, saya memimpikan kamu.
Rasanya tidak karuan. Senang setengah mati karena akhirnya bisa bertemu dan memeluk kamu, tapi rasanya pegel juga karena saya akhirnya bisa mencapai dan merengkuh kamu ke Benua sana dengan cara.....berenang.

Iya, sayang. Absurd, memang. Kasian ya kamu punya pacar yang aneh.
Saya mulai berenang dari Ancol, setelah membayar 35 ribu di pintu masuk. Kurang ajar, memang. Kenapa saya mendadak bisa nyetir mobil giliran harga tiket masuk Ancol sudah naik? Bahkan di mimpi pun saya bisa menjadi sangat fucked up.
Oke, lanjut.
Setelah saya membayar 35 ribu dan parkir di depan Pantai Karnaval, saya berjalan menyusuri pantai.
Lalu kemudian....
Jebur.
Saya berenang.
IYA SAYANG SAYA TAU ITU ANEH UDAH KAMU DIEM AJA, BACA POSTINGAN INI SAMPAI HABIS DULU, YA?
Kemudian muncullah scene saya berenang-renang dengan durjana, entah kemana.
Sampai pada akhirnya....
Saya sampai di benua tempat kamu bekerja. Amerika.
Dengan sambutan Patung Liberty dan bule-bule tukang hot dog di pinggir jalan, saya datang.
Dan melihat kamu, dengan gagahnya dengan seragammu yang berwarna putih.

Kamu melihat saya datang, dan tersenyum.
Lalu berlari ke arah saya, memeluk saya.
You know how great it feels, baby.
:)

31 October 2012

5th and 29th

Halo Jelek, apa kabar?
Saya harap kamu baik-baik dan tenang-tenang saja tanpa gangguan apapun. Saya pun di sini baik-baik saja, walaupun sekarang sedang dilanda batuk Katarina, oh selain badai, batuk juga boleh saya kasih nama, dong? Tidak terasa ya, sudah tahun 2012 saja. Kayaknya baru kemarin kamu ngamuk sama saya karena saya gak mau beliin kamu ikan asin. Kayaknya baru kemarin kamu genggam tangan saya dan meminta maaf untuk segala keegoisanmu, kayaknya baru kemarin saya cium kening kamu untuk terakhir kalinya, setelah membacakan untaian ayat dari surat Yaasin kepada jasadmu yang terpejam.

Jelek,
saya menulis ini bukan karena saya menyesali, bukan mau mengungkit hal-hal buruk yang pernah terjadi, bukan. Tapi ini komitmen saya, untuk menulis tentang kamu setahun sekali, tepat di bulan Oktober. Harusnya saya menulis di hari ke-6 dan ke-27, tapi saya tidak sempat dan mohon maaf sekali baru menulis di hari terakhir Oktober ini.
Jelek,
Saya sangat berharap kamu baik-baik saja. Berharap sakit yang kamu derita waktu itu berbuah manis dan menghadiahkan kamu tempat terindah di sisiNya. Berharap kamu menghirup udara paling harum dari sesak yang mengharuskanmu tidak lepas dari tabung oksigen kemarin. Berharap kamu dapat bergerak sebebas mungkin dari lilitan selang dan alat cuci darah yang sangat mengurangi ruangmu kemarin.


Last night, there was a full moon.
It's alone but doesn't look lonely.
It proudly shined shined bright and beautifully,
simply reminds me of you.
Come home soon, Boy. I miss you so fuckin much.

Launching #RasaCinta: Beyond fun!

Hari Sabtu kemarin, akhirnya kami hajatan.
Hajatan apipon? Hajatan launching #RasaCinta. Akhirnya!
*tebar-tebar confetti*

Yak, pemirsa sebangsa dan setanah air. Setelah penantian dan jualan tanpa henti di timeline kurang lebih sebulan, kami bertujuh akhirnya mengejawantahkan pelaksanaan Launching Event ini. Diadakan di Tokove Kemang, acara direncanakan dimulai pukul 3 sore, molor setengah jam dari jadwal seharusnya yaitu pukul 2.30 siang. Tapi kayaknya audience oke-oke aja, maka dari itu kami dengan gak tau dirinya oke-oke juga.
Acara dipandu oleh MC yang kece namun dirti, Dila Difa. Dia memandu acara dengan sangat ciamik dan fantastik juga menarik. Saya yang notabene baru kenal dia hari itu langsung merasa nyaman dan mempercayakan acara ini untuk dipandu oleh perempuan gila yang satu ini. And she hit a huge success! :))
*kalungin bunga ke Dila*
Anyway in case you wonder, ini penampakan MC dirti kita, Ibuk Dila:
Thanks, Agi!

Acaranya sendiri terdiri dari sesi bedah buku, tanya jawab, quiz dan acoustic session. Now lemme explain it to you one by one.
1. BEDAH BUKU. Jeng jeng.
Kami menceritakan ada berapa cerita yang kami tuliskan di buku ini, dan background masing-masing dari cerita itu. Pertama dimulai dari Loli, Teh Dewi, Ariev, Roy, Dwika, kemudian....Saya. Loh kurang satu ya? NAH ITU DIA SI POPOKMAN MASIH DI JALAN TERLAMBAT EUY KUMAHA IEU TEH KUMAHAAAA?
*panjat Monas, cari Popok*
Nggak deng, dia izin datang terlambat karena pesawatnya baru landing dari Medan jam 1 siang. Jeng jeng!
Dan alhamdulillah, gak lama-lama aja dia telatnya. Nggak, nggak sampe 3 bulan kok. Aman.

Thanks Agi!
Iya, itu foto ketika sesi Bedah Buku dimulai dan Popok belum dateng. The place is lovely, isn't it? :)
Selesai dengan bedah buku, kita lanjut ke sesi kedua, yaitu.......

26 October 2012

Kalian pernah marah, semarah-marahnya hingga selama sepersekian detik kalian berharap kalau barang-barang kalian terbuat dari plastik, karena besarnya kemungkinan akan melayangnya benda-benda di depan kalian yang merupakan perbuatan tangan kalian sendiri yang telah melempar semuanya?

Pernahkah kalian merasa sedih, sesedih-sedihnya sehingga kalian berharap kailan memiliki sebuah kekuatan tambahan untuk mencampuri urusan Tuhan untuk memutar balikkan waktu dan tidak menambahkan esensial untuk rasa sedih di dalam sistem tubuh kalian?

Sayangnya,
saya terlalu sedih dan marah untuk meneruskan tulisan ini.
Maaf..

23 October 2012

Hopefully

pic was taken from here

We're gonna take a stroll after our dinner in a lovely diner.
I'm gonna hold your arm, while you caress my cheek, Oh it's always feels warm.
It's quite cold here, as you start sneezing. 
Your nose turning pink, and I can't help myself for not giggling.

We're gonna have some light chat, how's your day, what kind of music you currently listening, what food would you like to have for tomorrow's breakfast.
And I'll gladly listen to you, while staring at your glazy eyes.
You'll kiss me on the forehead, and I'm gonna say "I love you too" since you have that ability to hide your feeling.

Then we're gonna stop walking to a place that we call "home".

You sit on the sofa, still busy with your pinky-winky nosey.
Then I'm gonna make you a cup of hot tea since you're not a fan of coffee, and get you some raisin cookie.
You'll turn on the TV, find some cheezy joke to laugh at, but you find nothing.
You'll turn it off, and choose to hug me.
Then we're gonna start another story.

Come home soon, baby. I miss you.

19 October 2012

Bali, day 1: Sebuah kewajiban.

Hari pertama di Bali, tanpa kamu.

Saya tiba pukul 11.25 WITA, bersama kedua sepupu saya. Menunggu sebentar, tidak lama kami dijemput oleh Pak Wayan, pengantar kami. Kemudian kami berempat (Saya, Pak Wayan, Tom Cruise dan Katie Holmes yang rujuk kembali, oke saya bohong) langsung menuju hotel tempat kami bertiga (Saya, Robert Pattinson dan Kristen Stewart yang juga rujuk kembali, oke saya berbohong untuk kedua kalinya) menginap.
Saya menginap di The Kubu Hotel, di jl. Popies I Gang Sorga. BENAR, PEMIRSAH. GANG SORGA SAJAAAAA~
*pake jilbab*
Maka sebagai perempuan soleha dan bergaya hidup syariah, menginaplah saya di gang sorga ini.
*benerin jilbab yang mulai melencong terkena angin*

Sesampainya kami di hotel, saya tanpa babibu langsung ganti celana jeans jadi celana pendek dan kami langsung berangkat ke Padang-Padang Beach. Pantai! Woo hoo!
Sesampainya di Padang-Padang, saya diam.
Ingat Kadek.
Kangen.
Lalu galau sepanjang masa.
....
Foto-foto sok ceria tersimpan manis di kamera sepupu saya, kemudian saya berkata dalam hati,
"Wish you were here, K.."
AH GILA KEREN YA SAYA NGOMONG DALEM HATI AJA PAKE BAHASA INGGRIS.
*disambit kamus*
Selesai dengan kegalauan mendera, saya dan sepupu-sepupu saya lanjut ke Blue Point.
Turun dari mobil, kalimat pertama yang keluar dari mulut kami adalah, "ANJIS PANAS!"
Ya begimana gak panas bin hot bin menyengat, kami ke sana itu tengah siang bolong dimana matahari lagi dengan baik hatinya berbagi sinar untuk menerangi dunia. Jengjeng. Jengjet.
Dan tentu saja sodara-sodara sebangsa dan setanah air Indonesia Raya, kami mengurungkan niat untuk turun sepenuhnya ke blantika perpantaian Blue Point. Ujung-ujungnya, naik lagi ke atas. Cuman nggosong-gosongin kulit aja.

18 October 2012

Saya akan singgah untuk beberapa hari ke depan, di pulaumu yang dihujani sinar matahari namun selalu menyenangkan.

...Untuk kemudian tinggal dan menetapkan hati.

02 October 2012

picture source

There will be you and I, sitting in front of each other, talking about how we should plan our future, or how will we end this relationship.
Because in the end, life is about choice, don't you think?

Senja di Batas Khatulistiwa #8 - Susi

Kepada Sersan Djatmiko, pemberani kesayanganku..

Aku sangat minta maaf karena baru sekarang bisa membalas suratmu. Keadaan Papi sungguh memburuk dan aku hampir tidak memiliki celah untuk membalas suratmu. Soetopo si ingusan itu juga tidak berhenti mendatangi dan mendekatiku. Terakhir dia mengajakku berlibur bersama yang tentu saja aku tolak mentah-mentah. Aku hampir menyerah ketika aku harus menghadapi kenyataan bahwa Papi terus mendesak aku untuk menikahi Soetopo si anak walikota tengil itu, aku nyaris pingsan ketika minggu lalu dia dan kedua orang tuanya datang untuk melamarku. Kala itu, nampaknya Papi lupa akan sakit dan rengekan serta keluhan akan penyakitnya, Mas. Yang aku lakukan hanya mengingat senyummu dan harum terakhir sekotak martabak  yang kita habiskan berdua dengan beringasnya sebelum kamu berangkat ditugaskan.

01 October 2012

Quickie

This will be a quick post. Oh you can say that I'm doing a quickie, without condom.
So I found Kadek wrote on his facebook status, "I have so much to say, but you're so far away".
Do you know how does it feel to read such writing?
Failure.
And it hurts me.

A good Monday you're gonna have, people. Please be grateful of what you have, please be thankful of having a good lover who can always be bside you in your upside down. Not the one like me.

29 September 2012

A prove of love and faith

Rabu kemarin, saya makan siang.
Bukan sekedar makan siang biasa, tidak ada sepiring ketoprak dengan telor ceplok di depan saya, melainkan seorang teman. Teman lama, yang tidak akan saya sebutkan siapa dan namanya di sini, for the sake of privacy.

So, let me begin the story.

Siang terik, sekitar jam 2 siang di Sudirman dan sekitarnya. Sinar matahari terasa panas menusuk, setajam tatapan perempuan yang sedang insecure sama pacarnya. Kebetulan dia habis ada panggilan untuk melakukan psikotes di kantor saya untuk kebutuhan recruitment pegawai baru. Setelah memesan es teh manis untuk dia dan es teh tawar untuk saya, kami menyalakan rokok masing-masing (baca: rokok dia yang saya rampok MUAHAHAHAHA), kami memulai pembicaraan. Been a long time since our last conversation. Kalau dirasa-rasa tanpa diraba, kangen juga saya sama kampret yang satu ini.
Kami memulai pembicaraan dengan topik standard: Current life.
Dia menanyakan bagaimana pekerjaan saya yang sekarang, begitu juga dengan saya. Kami saling bertukar cerita, sampai akhirnya..
Dia: Gue kan kemaren sempet juga dipanggil di tempatnya (salah satu nama teman kami)
Saya: (dalem hati: gue udah tau, yang lo gak dateng kan? Gue diceritain sama dia. Monyiong gue sebel sama elo udah dipanggil masih mangkir) He eh, terus?
Dia: Gue nanya sama anak gue.
Saya: *bengong* Nanya apaan? Anaklo kan baru lahir?
Dia: Iya, gue nanya sama dia, "De, besok Ayah ada panggilan nih di tempatnya tante (nama teman kami), kalo menurut kamu Ayah lebih baik dateng, Dede nangis ya. Tapi kalo menurut Dede, sebaiknya Ayah jangan dateng, Dede ketawa aja.." eh terus anak gue ketawa, Ta.
Saya: ....terus lo nggak dateng?
Dia: Nggak, Ta.
Saya: (diam seribu bahasa. Asli, saya sangat merasa bersalah sama si kampret yang rokoknya habis saya rampok ini. Maafin gue, ya. Now you read this, no?)
Dia: Terus pas ada panggilan di tempat elo, gue nanya juga nih ke anak gue..
Saya: Nanya gimana?
Dia: Ya sama. Gue bilang, "De, besok Ayah ada panggilan nih di tempatnya Tante Nita. Kalo menurut Dede,  Ayah sebaiknya jangan dateng, Dede nangis ya. Tapi kalo menurut Dede, Ayah sebaiknya dateng, Dede ketawa, ya".
Saya: Terus?
Dia: Anak gue diem aja, Ta.
Saya: Lah?
Dia: Eh terus gak lama, dia nyengir. Yaudah gue datengin ke tempatlo.

Percakapan tentu tidak berakhir di situ, kami masih ngobrol tapi ngalor ngidul. Memang di antara kami, percakapan serius tidak akan panjang umurnya, ya kayak yang saya tulis di atas tadi :))

27 September 2012

Marathon Race

Kemarin saya berbincang dengan dua orang teman yang saya tidak akan sebutkan namanya di sini.
Percakapan ini terjadi ketika kami sedang di perjalanan pulang, sehabis meeting.
Saya banyak bercerita tentang situasi relationship yang saya jalani bersama Kadek. Up and down-nya, senang-susahnya, percaya-insecure-nya, semuanya.
Sampai akhirnya, saya bersuara.
Bukan sekedar deretan kata yang terpendam dalam otak saya, namun kali ini dia bekerja sama dengan hati saya.
"Gue capek."
Akhirnya keluar juga kalimat itu dari bibir saya. Sialan.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali mengalami mental drop setiap kali bayangan-bayangan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk terjadi.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali memiliki kecurigaan yang besar.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali putus asa dan memutuskan untuk menyerah setiap kali saya memikirkan tentang ke mana hubungan ini akan berujung.
Saya banyak bercerita betapa saya seringkali merasa pesimis untuk hasil akhir dari hubungan kami nanti.

21 September 2012

#RasaCinta, tulisan tentang cinta yang penuh rasa

Rasa Cinta - Mencecap Cerita di Setiap Rasa

Yes it issssssss, people!
Our baby has been born!
Setelah selama ini cuman jadi impian dan menumpahkan seluruh sampah pikiran di dalam blog ini, akhirnya, saya ikut berpartisipasi dalam sebuah buku, yang saya tulis bersama beberapa teman lainnya. WOO HOO!
*kibas-kibas pecut kuda lumping*

Jadi begini, ceritanya dari Awal..
Pada suatu malam minggu yang tidak terlalu sendu karena saya ditemani nasi goreng yang warnanya tidak abu-abu *cuman buat ngelengkapin rhyme aja sih*, saya di-BBM sama Ariev, ngajakin jalanin project ini. Saya emang ya dasarnya banci tampil, seneng banget diajakin nulis dan langsung meng-ho oh-kan tawaran tersebut tanpa pikir panjang. And here goes the real story..
Brainstorming dilakukan. Saya diperkenalkan dengan Roy dan Teh Dewi lewat email. Total penulis as you can see from the picture, ada 7. Selain kami berempat ada juga Dwika, Wandy dan juga Loli. Diskusi kami lakukan lewat email. Tema dan topik tanpa Hidayat juga dibicarakan. Masing-masing update tentang tulisan apa saja dan tentang apa ceritanya, Roy beberapa kali mengingatkan tentang deadline yang dengan tak bermartabat manisnya kami langgar. Sampai akhirnya, selesai sudah tugas menulis kami. Lanjut ke tahap berikutnya..

Kami set up waktu untuk ketemuan dan ngomongin ini itu perintilannya. Dari judul, tagline, konsep cover seperti apa, dan lain-lainnya. Saya jelas seneng banget karena waktu itu akan jadi waktu pertama kalinya saya ketemu Roy dan Teh Dewi. Janjian ketemuan sama Roy di mal paling gaul seantero dunia-akhirat, Arion Mal. Sempet agak bodor nyasar-nyasar dikit, akhirnya saya ketemu Roy. Akhirnya! Roy Saputra, sang penulis kondang tapi sayangnya jomb...........hmmmmppphhhttt.
*keburu dibekep Roy*
LANJUT!
Setelah ketemu sama Roy dan menjemput Dwika di sebuah hotel (?), kami meluncur ke tempat ketemuan, yaitu Ketjil Kitchen. Tempatnya enak dan cozy, menyenangkan. Dan di situlah saya pertama kali ketemu Teh Dewi. Senangnya dobel. Lalu kami ngobrol-ngobrol haha-hihi dan sedikit memperbincangkan tentang perintilan "anak" kami ini :)

Percakapan berjalan seru dan menyenangkan. Kami bahkan sempat pindah ke Beer Garden  yang juga di SCBD. Merasa capek ketawa-tawa dan karena ada anak perawan yang harus diantar pulang sebelum tengah malam, kami pulang.
Saya kangen.
Kangen menulis sesuatu yang bukan hanya sekedar dialog.
Kangen menulis sesuatu yang bercerita.
Kangen menulis tentang rasa,
tentang kamu,
tentang apa saja.

Tunggu ya, sebentar lagi saya pulang, saya akan banyak bercerita :)

19 September 2012

pic source

I don't want anyone else,
only. you.

09 September 2012

Kalau sudah tidak ada yang diperbincangkan, untuk apa tetap diam? Pergi.

04 September 2012

pic source

"Sayaaang, mau kopi?"

(hampir) Menangis

Siang ini, saya hampir menangis.
Membayangkan kamu di samping saya, membawakan banyaaaak sekali cerita setelah kepulanganmu dari benua seberang sana.
Kemudian kita akan menjadi berdua saja, tanpa ada siapa-siapa.

Kamu, yang berbaring di samping saya, terlihat lelah.
Kulitmu yang menggelap karena terbakar sinar matahari, namun ototmu yang lebih kencang. Kerja kerasmu menghasilkan, sayang. Lebih lama lagi di situ, pasti kamu sudah bisa jadi binaragawan. Oh iya, masih ada kontrak kedua, ketiga dan seterusnya, ya. Baiklah.
Sebentar lagi matamu akan terpejam, melepaskan diri sejenak dari apa yang harus kamu kerjakan.
Dan saya akan diam-diam merebahkan kepala saya di dadamu,menyelundupkan wangi rambut saya yang katanya kamu suka, ke dalam indera penciumanmu.

Kita akan berpelukan dalam diam, menikmati kebahagiaan yang akhirnya kita rasakan kembali.
Kita akan tersenyum sendiri, juga dalam diam, membayangkan betapa bodohnya masing-masing kita telah meluapkan emosi kemarin-kemarin dengan cara yang salah. "Apa jadinya kalau kamu marah dan akhirnya meninggalkan aku?" mungkin itu yang ada di dalam otakku nanti.
Kita akan berhenti diam untuk kemudian saling memandang dan tersenyum ke satu sama lain. Mengeluarkan senyum bodoh yang selalu kita lemparkan untuk akhirnya kita leburkan jadi tawa membahana dan peluk yang semakin hangat.

Siang ini, saya hampir menangis.
Merasakan betapa saya rindu kamu, rindu berbicara tentang apa saja, kapan saja, dan dimana saja denganmu.
Memusingkan hal-hal kecil yang akan kamu timpali dengan komentar-komentar singkat.

Biasanya, kamu akan bertanya keberadaan saya dan apa yang sedang lakukan, mengingat pacarmu ini tukang lompat-lompat dari satu lokasi ke lokasi lain dan melakukan banyak hal, jelas kamu akan melontarkan pertanyaan yang sama beberapa kali dalam satu hari.

Biasanya, kita akan berbicara tentang menu makan siang kita. Kamu yang akan selalu menghadirkan tempe, dan saya yang tak hentinya mengomentari hal itu. Kita pernah tertawa bodoh mengenai tempe, kamu ingat, sayang? Kamu yang tidak boleh memakan daging sapi dan saya yang tidak boleh memakan daging babi, lalu kalau kita menikah nanti kita akan makan tempe tiap hari.

Biasaya, kita akan saling mendengar suara satu sama lain di telepon, sebelum kita tidur, setelah kita menjalankan ibadah malam kita. Kamu dengan sembahyang-mu, dan saya dengan sholat saya. Kita melanggar aturan Tuhan dengan mencintai satu sama lain, tapi bukan berarti kita tidak beriman. Ya sayang, ya?

Siang ini, saya hampir menangis.

Sayang, ayo pulang, biar nanti aku bisa peluk aku pijitin aku usap-usap kepalanya sampe ketiduran biar capeknya hilang, ya? Setelah itu, baru kita bicarakan lagi..

03 September 2012

Mahogany

Halo halooo! Postingan dari domain pribadi, akhirnyaaa setelah sekian lama, tilcik berdiri sendiri jua! Mamaaaak!
*menangis haru*
*potong tumpeng*
*gelar dangdutan tujuh hari tujuh malam*

Jadi, saya mau menulis postingan berkualitas untuk membuka postingan di tilcik dotkom pada kesempatan kali ini, yaitu...
Akhirnya saya merubah warna rambut saya. Ihik ihik.
*kibas dulu dikit rambut barunya*
Begini, tadi pagi saya lagi celingukan pegel-pegel di depan Bleki dari pagi-siang, sampai akhirnya hati saya tergerak untuk memberikan punggung ini sentuhan-sentuhan cinta dari tukang pijet di salon. Iya, namanya Masseur. Tapi kalo yang mijetin mbak-mbak, ya namanya Mbakseur.
*ditotok mati*

Akhirnya saya mandi dan ganti baju, setelah rapi jali kece dan wangi WHICH IS SAYA BINGUNG KENAPA SAYA MANDI PAN ENTAR KALO PIJETNYA PAKE LULUR SAYA MANDI LAGI, saya pamit dan meminta restu kepada kedua orang tua saya untuk menjalankan ibadah kecantikan pada hari Minggu kali ini.
Berikut percakapan saya dan Papa yang terjadi siang tadi:
Saya : Pa, berangkat dulu, ya.
Papa : Mau kemana?
Saya : Ke salon.
Papa : Mau ngapain?
Saya : ............
APAKAH BAPAK SAYA BERPIKIR SAYA AKAN MAIN CONGKLAK ATAU IKUT KELAS MEMASAK DI SALON? ATAU MEMANG SELAMA INI BAPAK SAYA MENGANGGAP SAYA LAKI-LAKI? SEBAGAI ANAK PEREMPUAN YANG BERASAL DARI PELUH DAN BIBITNYA, SAYA MERASA GAGAL-SODARA-SODARA SEKALIAN!
*menangis di bawah lampu pekarangan kantor Kelurahan*
*diusir hansip domestik*
Saya menyerah, akhirnya mengalihkan proposal izin juga restu dan doa-doa terlampir kepada Mama. Dengan rasa pegal di punggung yang makin terasa serta dorongan juga hasrat mendengar bunyi keretek-keretek ketika punggung saya dihajar pijatan mahadahsyat, saya cium tangan dan pamit. Berikut juga percakapan yang terjadi antara saya dan Mama:
Saya : Berangkat dulu, Ma"
Mama : Mau kemana?
Saya : Salon
Mama : Mau potong rambut?
Saya : Enggak, krimbat aja.
Mama : Oh, yaudah hati-hati.
.......
Udah gak usah protes. Saya juga bingung kenapa ketika ditanya apa yang akan saya perbuat di salon dari harusnya jawaban "Mau pijet dan lulur" menjadi "Krimbat". Namun dalam sepersekian detik saya ingat kalau saya belum keramas dengan baik dan benar. Lagipula, kalo krimbat kan dapet pijetnya juga, jadi 2 in 1. HOBAHH! Dengan tekad yang bulat, saya pun berangkat. #rhyme.

Sesampainya di salon.

26 August 2012

Mending nggak usah dibaca. Sungguh.

Sudah beberapa hari ini hubungan saya dan Kadek kurang "klik".
Kenapa eh kenapa? Karena eh karena, sudah beberapa kali waktunya kami berhubungan (BBM-an maksudnyaaa) kalo enggak dia ya saya yang tidur duluan. Ya beginilah pacaran tapi dua-duanya tukang tidur dan kalo nempel dikit sama bantal atau apaan gitu yang adem-adem langsung molor. Makanya kemaren pas di Bali kami kurang banget jalan-jalannya karena sebagian besar waktu dipake tidur wahahahahahahaha.
*dibekep jangkar karena buka aib rumah tangga*

Jadi sekarang intinya, saya mau ngasihtau kalo saya, kangen.
Biasanya sih kami kalo udah jadwalnya dia BBM saya kami banyak ngobrol. Tentang kehidupan saya, kehidupan dia, insecure-insecure ngehek dikit, abis itu baikan dan becanda-becanda lagi. Ya gimana, kami selain pasangan tukang tidur juga pasangan gampangan. Gampang marah tapi gampang juga dirayu (IYA IYA ITU SAYA DOANG SIH DIANYA ENGGAK KECUALI BAGIAN TUKANG TIDUR). Dan saya juga lagi kangen heart-connection kita yang kayak, kalo saya pingin sesuatu pasti dia kabulin. Beberapa waktu yang lalu saya lagi kangen di-insecure-in eh dikabulin sama dia dengan dia nggak mengizinkan saya pergi ke acara Sahur On The Road bareng temen-temen saya. Terus, dia juga minta saya kirim location saya lewat Google Maps, saya kabulin juga lha saya juga nggak kemana-mana. ANJIS BERASA ANAK SMP INSECURE PISAN MANEH, SAYANG!
*gegulingan di kuburan*

Nah, minggu kemarin, hal ini tidak terjadi..
*suara biola dengan dramatisnya mengalunkan lagu "Stasiun Balapan". Nggak apa-apa nggak nyambung, yang penting biola dan dramatis*
Hari Rabu dia BBM. Kalo Rabu itu, biasanya kapal pesiar tempat dia kerja itu bersandar yang jelas di pelabuhan Meksiko, bukan, bukan bersandar di bahunya mas Anang Hermansyah. *dijambak Ashanti* kalo Rabu itu dia turun kapal dan henponnya dapet sinyal, jadilah dia mulai BBM saya hari rabu. Tapi kali ini dia nggak turun kapal dan memilih untuk diem di kamar kemudian...........tidur. Yak jadilah hari Rabu malem saya tidur dengan bibir manyun, pemirsa yang ada di studio maupun di rumah entah rumah sendiri atau masih numpang mertua.
*dikemplang berjamaah*
Rabu malem tidur manyun, bangun-bangun saya berasa Angelina Jolie.

18 August 2012

Intro: Idul Fitri

Ini akan menjadi postingan singkat menyambut Idul Fitri sebelum saya pergi tidur untuk menyiapkan energi untuk Sholat Ied pagi nanti.
Alhamdulillah saya kembali diberi kesempatan untuk merasakan Ramadhan tahun ini. Rasanya seperti mengikuti proses suatu audisi dan saya termasuk salah satu yang beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti pesta utamanya. Idul Fitri kali ini tidak jauh berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Selalu saya tunggu, selalu syahdu, selalu memberikan perasaan ingin menangis. Tuhan sayang sekali sama saya, betapapun saya kurang ajar sama Dia sudah sering melanggar banyak aturan-Nya.

Masih diberi kesempatan untuk merayakan hari kemenangan ini dengan anggota keluarga lengkap; orang tua yang alhamdulillah masih sehat walaupun sudah menua, adik yang makin tinggi dan jenggotnya makin melebat, dan saya sendiri yang sudah dalam keadaan yang lebih baik. Kedua nenek saya juga alhamdulillah masih sehat, walaupun salah satu dari mereka sempat ada yang sakit dan masuk rumah sakit, tapi itu semua bisa beliau lewati berkat doa dan perawatan dari anak-anak serta cucu-cucunya yang kasih sayangnya luar biasa.

Hanya satu bagian kecil yang berbeda di Idul Fitri ini, untuk saya.
Pasangan saya kali ini, kesayangan saya, tidak ikut merayakan Idul Fitri.
Bukan karena dia lagi jauh dan tidak berada di negara ini, tapi memang keyakinan yang dia peluk tidaklah sama dengan keyakinan yang saya yakini sepenuh hati.
Dia bahkan tidak tahu kalau saya akan dengan sangat senang hati merayakan Hari Kemenangan ini.
Mungkin ketika saya selesai menjalankan ibadah Sholat Ied dan bertukar haru saling memaafkan dengan anggota keluarga saya, dia sedang sibuk bekerja atau bahkan sekedar menyandarkan kepalanya sejenak untuk beristirahat.
Tidak, dia tidak tahu :)

Kadek's (current) Birthday Present


Masih bertemakan ulang tahun pacar saya kemarin,
di antara keribetan pekerjaan saya, saya membuat mahakarya sampah ini dan kemudian kabur meninggalkan bos saya yang masih meeting hore-hore. Fuck yeah, Anita Sekretaris Teladan 2012 dan seterusnya.
*disambit buku notulen*

Kebetulan ada satu set spidol warna-warni nganggur di meja saya, peninggalan sekretaris sebelumnya, jadilah saya gambar-gambar untuk kemudian saya gunting-gunting. Sengaja saya bikin warna warni juga karena dia sudah membuat hidup saya akhir-akhir ini menjadi lebih berwarna, tidak hanya monokrom :)
Lalu saya sertakan juga kacamata juga jam tangan saya, untuk mewakili "Saya"-nya. Sengaja juga saya sertakan kacamata yang lama karena dia lebih mengenal saya dengan kacamata yang itu, bukan kacamata yang baru dengan model yang lebih bagus dan lebih cocok untuk mata saya. Jam tangan? Mengapa jam tangan? Karena jam tangan itu, merupakan pasangan dari jam tangan yang dia pakai di sana, dengan model yang persis sama. Tidak percaya? Ini buktinya:

*nyengir*


14 August 2012

First conversation

pic was taken from here

I still exactly remember when the first time we met, sitting in front of each other, as totally strangers.
You, with that white shirt and black trousers also a tie, tidy one, sitting nervously.

And we had that interview, Me as the interviewer and you as the interviewee. The interview was one that led you to a training program in my office back then.
My first impression was, you had such a beautiful pair of eyes.

Then my colleague introduced me to you and your friends, and we continued talking to each other for so many times. Really often. It's really fun to talk to you, you know? No boundaries, no expectation, the conversation flows like a river somewhere in your beautiful island; Bali.

Then we fell in love, confessed and kissed each other on the lips, just like that.

Well..

You didn't expect that we would be like this no, babe?
I love you.
I really do.
And it's somehow surprising if we look back to the past, how God planned this.

"Halo. Anita.."
"Kadek"
:)

02 August 2012

A whole story to answer

Kemarin saya melempar pertanyaan ini ke twitter:

Lalu ada yang bales ini:

Pas pertama kali baca tweet ini, saya langsung nyengir.
Have you ever been in that kind of situation?
I did.
And let me tell you now.

Saya pernah berada di sebuah hubungan dengan satu orang laki-laki yang usianya 7 tahun di atas saya. Dia orangnya pada dasarnya penyayang, namun sangat SANGAT posesif. Intinya, saya nggak boleh lecet sedikitpun sama orang lain. Harus benar-benar terjaga. Iya, TERJAGA.
Awal-awalnya saya senang dan merasa familiar dengan perlakuan seperti ini, secara Papa saya juga orangnya posesif sekali bahkan sejak saya belum lahir ke dunia ini. Jadi menurut saya, kehadiran satu orang lagi laki-laki dengan tipikal seperti itu bukanlah hal yang sulit untuk saya. Toh saya juga sudah terbiasa :)
Hubungan kami berjalan mulus pada awalnya, dia sangat menjaga saya. Sampai lama-lama..
"Aku mau pergi ya sama temen-temenku"
"Jangan"
"Kenapa?"
"Karena aku nggak kemana-mana, jadi kamu jangan kemana-mana"
Yes, people. Awalnya pernyataan ini merupakan "WTF moment" untuk saya. But then I realized, daripada saya ketemu temen-temen saya dan dia nggak kemana-mana, lebih baik saya ketemu dia.
Dan pola seperti itu pun tertanam selama hubungan kami pada tahun pertama, saya seneng-seneng aja YAIYALAH ANAK PEREMPUAN LAGI POL IN LOP DIAJAKIN PACARAN TERUS SAPEEEE YANG KAGAK DEMEN.
Iya, sih. Emang saya-nya aja yang kegatelan.
...
Lanjout!
Saya masih seneng-seneng aja ketika saya ijin mau pergi terus nggak boleh sama dia dan dialihkan pada ketemuan sama dia. Sampai akhirnya....
Saya nggak punya temen.
Satu pun.
Ketika saya protes ke temen-temen saya kenapa saya nggak diajakin pergi lagi, mereka pun bailk protes,
"Ah, percuma. Lo juga gak boleh kan sama pacarlo?"
Jeng jeng.
Saya mulai menyesal dan marah, sampai akhirnya saya malah protes ke dia,
"Aku paham sih kalo kamu nggak ngebolehin karena akan pulang malem.. Tapi kalo terus-terusan kayak gini, nanti akunya yang nggak punya temen.."
Dan dia-pun mulai melonggarkan "peraturan"nya. Saya boleh pergi sama temen-temen saya, tapi sebelumnya harus ketemuan dulu sama dia. Yang berujung pada, saya lebih memilih dia daripada temen-temen saya.
Iya, iya, emang dasar saya-nya aja yang kegatelan pengen sayang-sayangan.

Memasuki tahun kedua..
pic was taken from here
Let's eat macaroons, those colourful ones, with our cup of coffee, oh please stop your beer, baby. Let's have it in my old fashioned way.
Will you?

Cab....what?

So my boyfriend called me TWICE today, I don't know what kind of miracle brought him to be this "nice" to me :))
So this is, I think, the BEST part of our (3 seconds delayed for every sentence) conversation.

Me : Skype kek, Be.
Him: Iya baru bisa besok, kalo sekarang nggak bisa.
Me : Emang bedanya apa?
Him: Besok kan ke Vallarta, jadi baru bisa. Di sini internetnya payah.
Me : Lah emang sekarang di mana?
Him: Di Cabooooo~ San Lucas.
Me : Oh, Cabo San Lucas.
Him: Iya, Caboooooo~ San Lucas.
Me : Ha?
Him: Caboooooo~ San Lucas.
Me : Wtf?

So that's the way he pronounces "Cabo San Lucas". A new way of self-entertaining, as he's starting to be bored by the routine, guess :))

So, people, are you with me? In the count of three, kay?
One,
Two,
Three.
CABOOOOOOOO~ SAN LUCAS.
Fuck you, baby :)))))

01 August 2012

Introduction: Mandy

Hellow yellow (hopefully not) mellow people,
how's your day?
I hope that you had a grrrrrrreat day, as I had pretty fun day at work today :)

Well anywayyyyyyy,
I got a new stuff, just purchased it on Sunday, unplanned as usual :))

It will be a girl this time,
because "she" is pretty, in my opinion. And I'd love to carry "her" anywhere!
So here we go,
let me introduce you to Mandy, my new cat-eyed glasses.

TA-DAA! :D

Mandy is my new baby, a more "adjusted" one (since I got my cylindris increased) than the previous glasses which I named Loui. Yes, I'm that weird :))

Now I bring both Mandy and Loui wherever I go, since I feel like a mother with 2 children, and they seem like brother and sister who takes care each other. Nowadays I only wear Mandy for writing casual things such as blogpost, tweets, etc while I wear Loui for work. Don't know why, the comfortable feeling tells me so :)

So here I am, trying to post about something on my blog but found a huge fail, guess :)) now am gonna off to go, le boyfriend is calling from Mexico!

xoxo,
I don't know.

31 July 2012

Love Song, an intermezzo



I know, this isn't the original version of this song, but by the way 311 covers the song, I constantly fall in love with the way they pack the song and bring the ambience that comes so, so soft and....lovely :)

I miss us that listening to this song together, laying in bed and giggled of the awkwardness because you listened to the song for the very first time.
You listened to this song once, then twice, then repeated it over and over again,
then you hugged me,
tightly.
Then you smiled, indeed you showed your signature silly smile. Silly :p

Sometimes I wonder, with everything that we're facing now, will we survive?
Then I would listen to this song,
and suddenly the faith comes back to the surface.
That we are,
going to be alright..

However far away, I will always love you.
However long I stay, I will always love you.
Whatever words I say, I will always love you.
I will always love you..
:)

Noran Bakrie x Let's Adopt

So am gonna write something that is quite serious here. Wait, not that serious, actually, but, well....
WHATEVS. HERE WE GO.

A friend of mine, a grrrreat one, Noran Bakrie but I call her Momo as my friend Gogo calls her so, yea I know, too much information here :p, Momo would like to donate some of her photographs (she's an INCREDIBLY GREAT photographer, FYI) to be sold. Here I give you some to take a look at her masterpiece(s):
 I'm really proud of Momo,
because she's talented, and she uses her talent to help others. Isn't it lovely? :)

If you  wonder what kind of thing is this, let me tell you now.
Those photographs you've seen above called as The "Noran Bakrie x Let's Adopt" Series, a donating program which will be donated to Let's Adopt Indonesia. This foundation is the one that rescues abandoned pets and let people adopt them. Isn't it a great thing to do? So why do you waste your time by ONLY  reading this post? Go move and donate, because you will save and get these lovelies their prettiest smile!


 
Stevie
 
Quincy

Coco - My fave!


Jemima
You sure you still don't wanna spend few of your money to help them? Go and donate for a better life and future! Also, would please help us spread the news by posting this donation to your blog so that more people will be concerned? The more the merrier! Yay yay! Happy day, folks! :D

29 July 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #7: Susi

Kepada yang tersayang, Mas Djatmiko..

Aku tidak tahu apa kamu sudah menerima suratku atau belum atau malah bahkan sudah membalasnya dan aku tidak tahu. Itu karena sampai saat ini aku masih di Jakarta, Mas. Aku menulis surat ini dengan diam-diam dan sekarang sudah jam 3 pagi di sini. Keadaan Papi semakin memburuk. Kami sudah mulai kehabisan biaya, hutang sudah di mana-mana. Tapi ada satu hal lagi yang lebih buruk dari itu:
Papi meminta aku menerima lamaran Soetopo, bajingan tengik anak Pak Eman sang Walikota yang memang sudah lama menaruh hati padaku.

Papi minta aku untuk menerima pinangannya karena keluarganya bisa membantu biaya berobat Papi. Aku sungguh tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku mencintai Papi dan aku akan berbuat apa saja agar Papi kembali sehat dan bahagia, tapi di sisi lain aku mencintai kamu dan aku ingin memperjuangkanmu sekeras mungkin. Air mataku sudah habis memikirkan semua ini setiap malam, Mas. Tentang kamu dan masa depan seperti apa yang akan kita hadapi, juga tentang keadaan Papi dan bagaimana cara keluar dari semua masalah ini. Ingin rasanya aku berteriak, namun menurutku itu terlalu kekanakan dan tidak akan menyelesaikan masalah.

Tadi pagi Soetopo mengajakku pergi makan malam hari Sabtu nanti, Papi memintaku untuk menerima ajakannya namun aku merasa ada yang aneh dan sesuatu yang tidak baik akan terjadi padaku.

Mas Djatmiko,
cepat pulang, Mas.. Aku mulai takut..

Susi Marina Dewi







---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini

28 July 2012

#CerpenPeterpan: Di Belakangku

Malam terasa sunyi, di kamar kost busuk ini ada aku dan kamu, saling menatap dingin satu sama lain.
"Siapa laki-laki itu?" Aku sudah tidak bisa memendam lagi. Ingatan tentangmu yang sedang dipeluk mesra oleh laki-laki itu sungguhlah menyakitkan.
"Bukan siapa-siapa" Kamu memang pintar akting dengan cara menjawabmu yang tetap tenang itu.
"Lalu mengapa dia merangkulmu mesra seperti itu? Kalian saling menatap dan tertawa. Itu yang kamu sebut 'Bukan siapa-siapa'? Aku juga sering merangkulmu. Apa aku juga bukan siapa-siapamu?
"Beda dong, Sayang.. Kamu kan tunanganku, dia teman kerjaku. Kamu paham, dong. Nggak usah kolot, ah." kamu sekarang tersenyum manis. Senyum beracun.
"Erlangga, sayangku, dengar aku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia. Dia hanya sedikit mabuk dan aku membantunya berjalan. Dia orangnya juga suka bercanda makanya aku tertawa-tawa karena dia kalau lagi mabuk suka aneh sekali.. Jangan marah ya, sayang, ya.." kamu mulai mengusap pipiku dan memelukku. Wangi parfummu yang khas menyeruak indera penciumanku dan meluluhkan hatiku. Kamu jalang, tapi aku mencintaimu, Mariska..

"Kau peluk aku sebelum membunuhku
Tersenyum melihatku merenung melihatmu.."

---

"Kamu sudah makan?" Kamu menghampiriku di taman biasa tempat aku menikmati sore.
"Sudah. Kamu dari mana saja?"
"Hmmm. Kantor sebentar tadi."
"Hari Minggu seperti ini?"
"Iya, kan sebentar lagi kantorku ulang tahun, sayang.. I have to work harder to make this happen. For the sake of my career, baby.." Kamu mendaratkan ciuman manis di pipiku. Harum parfummu kembali menyeruak ke dalam indera penciumanku. Tunggu, ini bukan wangimu.
"Kamu ganti parfum?" aku memalingkan perhatianku dari awan berbentuk pohon yang sedari tadi aku perhatikan. Entah kenapa matamu sempat sedikit terbelalak sebelum menjawab pertanyaanku.
"Masa? Nggak, tuh. Kenapa, sayang?" kamu sekarang menyandarkan kepalamu di bahuku, mengalihkan wangimu yang berbeda tadi dengan harum rambutmu.
"Wangimu berbeda" aku kembali memusatkan perhatianku pada langit sore. Warnanya bagus. Suasananya tenang, namun entah kenapa, hatiku tidak.
"Aku mengerti kamu mencintaiku, tapi kan aku sudah menjadi tunanganmu.. Kita akan menyelenggarakan pernikahan yang sudah kita rancang dalam waktu dekat ini.. Kenapa kamu masih curiga?"
"Aku bukannya curiga, tapi..."
"Sssh, sayang. Sudah. There's nothing wrong, okay? I love you, that's all" kamu lagi-lagi tersenyum manis dengan senyum beracunmu yang tanpa kusadari, membunuhku perlahan-lahan dengan kenaifan.

"Kau menungguku menunggu ku terjatuh
Setiap langkah tertuju setia dalam menunggu
"

---

Aku menutup pintu kamar kost-ku yang sudah penuh sesak dengan barang-barang pemberianmu. Bantal, ransel, celengan, gitar, dan barang-barang lainnya yang jika dijajarkan bersama, dapat dikategorikan dari 'Barang penting' ke 'Barang tidak penting'. Semuanya kamu. Aku duduk di pojok berdebu kamarku, satu-satunya gelintiran sentimeter persegi yang tidak tersentuh oleh barang-barang pemberianmu.
Di sana, aku duduk, memejamkan mata.
Bayanganmu dan laki-laki itu kembali muncul. Segala keanehan dan keganjilan yang terjadi kepadamu akhir-akhir ini juga muncul ke permukaan. Sering menghilangnya kamu, gerak gerikmu, hingga yang terjadi tadi sore: Harummu yang berbeda.
Aku membuka mataku, tiba-tiba merasa ingin muntah.
Aku muak. Terlalu muak olehmu yang sudah muak mencintaiku. Terlalu muak oleh semua kepura-puraanmu.
Kuambil telepon genggamku dalam hitungan detik, kemudian..
"Halo sayaaang" suaramu yang ceria menyapa panggilanku. Tetap menyenangkan, namun tidak lagi menenangkan.
"Kamu di mana?"
"Masih di kantor niiih"
"Selarut ini?"
"Iya, kan kemarin sudah aku ceritakan, sayang.. Ada apa kamu tumben nelepon? Nanti telepon lagi mau, ya? Aku lagi meeting"
"Nggak, tidak perlu, aku hanya ingin menyampaikan satu hal"
"Apa itu sayang? Please say it fast, don't have pretty much time"
"Aku mencintaimu. Maafkan aku sudah melemparkanmu dengan segala prasangka buruk"
"Aaah, sayaaang. I love you too. Besok malam kita ketemu, ya. Aku balik meeting dulu. Dadaaah"
Tanpa aba-aba, kamu menutup teleponnya. Aku tersenyum. Senyum bengis, lebih tepatnya. Kalau saja kamu tahu mengapa aku lebih memilih untuk meminta maaf dan mengatakan bahwa aku mencintaimu, sama jawabannya seperti, 'kalau kamu bisa berpura-pura selama ini terhadapku, mengapa aku tidak?'.


"Aku menunggumu menunggumu menunggumu mati
Di depanku di depanku di depanku.."


---

Pukul 3 pagi.
Telepon genggamku berdering. Aku terkaget dan bangun. Sebuah telepon masuk. Nomor teleponmu.
"Halo?" Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku untuk menjawab telepon itu.
"Halo selamat malam. Betul dengan saudara Erlangga?" Sebuah suara yang tak kukenal namun terdengar berat dan berwibawa berbicara denganku.
"Iya betul, siapa ini?" aku terkaget. Apakah kamu diam-diam sudah menjadi laki-laki?
"Saya dari kepolisian, menemukan telepon genggam ini di dalam tas korban" sayup sayup terdengar suara sirine. Aku membelalak. Ada apa ini?
"Sebentar. 'Korban'? Maksud Anda apa?"
"Pemilik telepon genggam ini mengalami kecelakaan, seorang perempuan, dan ketika kami cek telepon genggamnya, nomor Anda yang terakhir ada dalam daftar panggilannya"
"Mariska? Kecelakaan? Apa yang terjadi, Pak? Tolong jelaskan. Sekarang di mana Mariska berada?!" aku mulai panik.
"Korban sudah dilarikan ke rumah sakit, lalu........."
Percakapan berlanjut. Aku mendapatkan alamat rumah sakit tempat kamu mendapat tindakan gawat darurat. Dengan motor teman yang kupinjam, aku menuju rumah sakit.. Tunggu aku, sayang.

Aku menemui pihak kepolisian yang tadi menelponku. Kamu mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak trotoar kemudian tiang penyangga jalan layang. Ternyata kamu tidak sendiri, namun bersama seorang laki-laki  yang aku curigai selama ini. Si laki-laki meninggal di tempat, sementara kamu masih sempat diselamatkan dan dilarikan ke rumah sakit. Keadaanmu sangat kritis, kata mereka. Pendarahan di mana-mana. Setelah menghubungi keluarganmu, aku memilih untuk memisahkan diri sejenak dan duduk di kafetaria dengan segelas kopi hangat, sampai akhirnya ibumu meneleponku dan memberitahu bahwa kamu sudah sadar dan ingin berbicara denganku.
"Erlangga.." kamu mencoba tersenyum, walau robek di mulutmu tidak dapat kuhindari untuk tidak kulihat.
"Jangan berbicara dulu, kamu masih terluka" aku mencoba tenang, walaupun kepalaku berdenyut kencang. Aku tidak tahu aku harus marah atau sedih atau tetap berpura-pura kepadamu.
"Maaf...kan...ak....." kemudian kamu terbatuk hebat, mulutnya mengeluarkan darah. Setengah berteriak, aku memanggil dokter. Seluruh keluargamu langsung berkumpul dan terlihat panik, sementara aku memilih untuk diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kasihan kamu. Namun, mengingat apa yang sudah kamu lakukan kepadaku.... Ah, apa yang harus aku lakukan?

Dokter meminta kami semua keluar ruangan. Ibumu terisak sedih. Aku memilih untuk duduk dan membenamkan kepalaku ke dalam telapak tanganku. Kepalaku terasa semakin sakit. Tidak lama kemudian, dokter keluar. Kami semua bangkit dari tempat duduk, menunggu kabar, apapun itu..
"Mohon maaf, semuanya. Mariska telah pulang ke pelukan Yang Maha Kuasa.."
Seketika tangis ibunya meledak. Aku masih diam. Tuhan, ada apa ini?
Dokter menghampiriku dan memberi isyarat untuk agak menjauh dari kerumunan anggota keluarganya.
"Saya minta maaf atas apa yang telah terjadi. Saya sudah berusaha sekuat apa yang saya bisa, namun Mariska dan calon anak kalian tidak dapat terselamatkan.."
Dunia mendadak terasa hening. "Calon anak kalian?" aku mengulang perkataan sang dokter.
"Betul, Pak. Anda suami dari Mariska, benar? Sebenarnya dia tengah mengandung, namun akibat kecelakaan itu, dia dan sang jabang bayi tak dapat terselamatkan.."
Perempuan jalang.
Aku tidak pernah menyentuhmu sedikitpun dan kamu ternyata telah hamil?
Aku mengangguk kepada dokter itu, lalu memilih untuk menyelesaikan permainan yang akhir-akhir ini menjadi permainan favoritku: Pura-pura mencintaimu. Aku membantu pengurusan acara pemakamanmu. Aku tidak tidur selama dua hari. Mataku berat, kepalaku sakit, tapi semua ini tidak seberapa dibandingkan semua kebohongan yang kita rancang dengan cara masing-masing..

"Apa yang kau lakukan dibelakangku
Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku?
"

---

Aku duduk diam di depan pusaramu. Menebar bunga dalam genggam terakhir kemudian menyiramnya dengan sebotol air mawar. Aku menunduk, memejamkan mata, lalu memanjatkan doa untukmu, Mariska. Kutatap tanah yang masih merah dan hangat itu, kemudian tanpa sadar aku berbisik,
"Kamu jalang, tapi bagaimanapun, aku mencintaimu. Selamat jalan, Mariska.."
Aku bangkit, pamit kepada Ibumu, kemudian pergi meninggalkan semua tentangmu, di belakangku.

20 July 2012

"Kamu pernah mikir nggak kalo kita akan lebih baik kalo sendiri-sendiri?"
"Iya aku pernah sih berpikir kayak gitu.."
"Lalu?"
"Apa kita bisa menerimanya?"
"Kamu mau ngelepas aku?"
"Nggak"

Percakapan yang dimulai oleh saya, diakhiri oleh kamu. Sayang, sudah aku bilang,
Nanti dulu..

And the tears dropped.

---

"Apa kamu yakin kita bisa bertahan?"
"Kita terlalu banyak perbedaan. Susah untuk bersatu"
"Kamu yakin kita bisa bertahan?"
"Aku nggak yakin kita bisa bertahan"
"Terus hubungan ini sampe kapan menurutmu?"
"Aku nggak tau"
"Kamu mau pertahanin aku sampe kapan?"
"Sampai kamu dapet yang lebih baik dari aku"
"Kamu jangan gitu.."
"Terus gimana, sayang? Aku nggak tau harus ngapain lagi.."
"Kamu mau nyerahin aku ke orang yang nggak kamu tau sama sekali?"
"Kamu pantas dapet yang lebih baik dari aku"
"Kamu udah ketemu perempuan yang lebih baik dari aku?"
"Nggak"
"Sayang, ada pun juga nggak apa-apa. Aku pasrah.."
"Nggak, sayang.. Di sini aku mau fokus, banyak sekali promosi pekerjaan akhir-akhir ini dan aku hanya bisa melihat dan tidak termasuk di dalamnya karena aku New Hire.."
"Iya.."
"Cerita temenmu itu bikin aku sadar kalo kejadian itu akan terjadi pada kita, cuma kita nggak tau kapan.."
"Kamu mau aku tunggu di kontrak keduamu?"
"Bingung"
"Kamu tinggal jawab ya atau tidak. Kalau kita masih bareng ketika kamu pulang, apa kamu mau aku tunggu di kontrak keduamu?"
"Bingung, sayang.."
"Kamu sayang aku?"
"Sayang"
"Lalu?"
"Ya karena aku sayang kamu aku nggak mau nanti kamu kecewa"
"Tapi, aku sayang kamu.."

And the conversation stopped. I just have no idea about what to write anymore. Mereka benar. Hubungan seperti ini memang destructive. Seperti bom waktu, kita tinggal hitung mundur. Tapi bedanya, kita tidak tahu kapan bomnya akan meledak dan menghancurkan kita, dua orang bodoh yang membangkang pada logika.
Sayang, jangan dulu..

05 July 2012

Nanti dulu

Kamu ingat, ketika kita berdua, berbaring bersampingan, memandang langit-langit dengan kipas angin tua menggantung yang berputar penuh semangat menghilangkan kegerahan kita akan cuaca pulaumu yang meradang?
6 hari sebelum keberangkatanmu, hari terakhir aku berada di sampingmu sebelum malamnya aku pulang, ke kotaku.
"Jadi gimana? Kita tetap pada kesepakatan sebelumnya?"
"Kamu mau?"
Aku diam, lalu balik bertanya, "Kamu?"
"Ndak"
"Kenapa?"
"Ya ndak mau aja. Jangan, ya.. Tunggu nah sebentar. Nggak lama"
"Kenapa?"
"Udah ya, tunggu, ya?"
Lalu kamu peluk aku. Lama, tapi hangat. Aku suka, lalu kemudian memilih untuk tenggelam di dalamnya.

"Be.."
"Ken?*"
"Nanti kan jadi makin jauh.."
"Iya, tapi kan cuma sebentar.."
"Jangan nakal ya?"
"Nah"
Aku menenggelamkan kepalaku di bawah ketiakmu, diam-diam berbisik,
"Aku sayang kamu"
Memang dasar pendengaranmu setara dengan ibu-ibu tetangga yang suka gosip, kamu mendekapku erat. Tanpa kata. Dalam diam, aku terisak.

Kamu tahu, kadang hal ini membuat kepalaku sakit luar biasa. Jarak dan perbedaan agama yang menjadi permasalahan utama kita mengeroyok keyakinanku, akan kamu, akan diriku sendiri, dan kita. Aku terkadang iri dengan kebersamaan mereka yang bisa dengan lancarnya merencanakan masa depan dengan para kesayangan, sementara aku hanya bisa diam mengamati mereka.

Aku, sama seperti mereka, memiliki keingingan yang besar untuk bisa kemudian menyeduhkan teh hangat untukmu setiap pagi, sejak kamu bukanlah penyuka kopi. Aku memiliki keinginan yang besar untuk bisa ada setiap malam menemanimu berbincang tentang segala hal sebelum kita akhirnya pergi tidur. Aku memiliki keinginan yang besar untuk memberimu sentuhan-sentuhan kecil di bagian kepala setiap kali kamu mengeluh kamu mengkhawatirkan banyak hal. Tapi kembali, aku akan membiarkan pikiranku diam daripada membiarkan kelenjar airmataku produksi massal.

Sayang,
kamu percaya, apapun yang kita jalani saat ini, akan berbuah manis? Walaupun hasilnya tidak seperti yang kita inginkan, tapi apa kamu yakin itulah yang kita butuhkan? Setidaknya, untuk pembelajaran?
Kamu sadar, sebesar apa resiko yang kita ambil perlahan-lahan saat ini?
Kamu sadar, sebanyak apa kesabaran yang harus kita terus menerus sediakan dan jaga agar tidak habis?

Kenapa kamu mengambil keputusan ini? Kenapa aku setuju?
Aku rasa,
karena kita peduli,
karena kita saling menyayangi.

Untuk Kadek Yudiarta,
jangan menyerah dulu.
*Ken: Bahasa Bali, biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, artinya "Kenapa?"

01 July 2012

Senja di batas khatulistiwa #6 - Susi

Kepada Mas Djatmiko,

Semoga kamu masih baik-baik saja di sana. Aku berdoa dengan sepenuh hati di sini agar prajurit kebanggaanku tetap bertahan dan berjuang.
Aku sangat amat mengkhawatirkan keadaanmu, Mas. Ternyata warga sekitar sini ada yang suaminya meninggal terkena tembakan di kepala, dan dia satu daerah denganmu. Mendengar berita itu, hatiku mencelos. Aku tidak bisa lagi menahan tangis tiap malam jika mengingat betapa khawatirnya aku akan keselamatanmu. Tapi kemudian, aku serahkan semuanya kepada Tuhan. Aku sempat menceritakan tentang semua ini kepada Matthew, tamunya Pak Kades yang di surat lalu aku ceritakan. Kamu ingat? Dia masih tinggal di sini dan belajar bahasa Indonesia. Setelah aku menceriakan semuanya kepada Matthew, dia berkata, "If it's meant to be, it will be". Dia bilang, kalau Tuhan mengijinkan kita berdua untuk bersama, seperti apapun caranya, kita akan bersama. Dia juga bilang agar aku tidak kehilangan keyakinanku terhadap kamu. Terhadap diriku sendiri yang menyayangi kamu, terhadap kita.

Matthew juga bilang, kalau keadaan di tempatmu yang sangat kacau dan penuh perang itu juga merupakan kehendak Tuhan. Kalau Tuhan ingin kamu membuktikan bahwa kamu orang yang kuat, kalau kamu adalah orang yang bisa bertanggung jawab untuk berjuang. Mendengar Matthew berkata itu, aku lega luar biasa. Aku sudah tidak terlalu sering menangis. Mataku tidak sebesar bola sepak takraw lagi, tapi bola ping-pong. Walaupun kadang-kadang masih bengkak karena khawatir memikirkan keadaanmu, setidaknya kadarnya berkurang.

YA HABISNYA MAU GIMANA LAGI MAS AKU KANGEN KAMU, AKU KHAWATIR, AKU TIDAK INGIN SESUATU YANG BURUK TERJADI PADAMU!

Cukup dengan capslock-nya. Lanjut, Mas.
Minggu depan aku akan kembali ke Jakarta. Papi sakit dan meminta aku pulang. Mungkin ketika kamu membalas surat ini, aku sedang di Jakarta. Tapi aku sudah menitipkan kepada Ibu Nur sang kepala keperawatan di tempatku untuk menyimpankan surat darimu. Semoga ketika kamu membaca surat ini dan membalasnya untukku, keadaan sudah jauh lebih baik: Perang di tempatmu, dan keadaan papiku. Semoga ya, Mas..

Dengan doa yang tak henti-hentinya tertuju untukmu, aku menutup surat ini. Kamu dapat salam dari Matthew. Stay strong, stay cool, keep away from drugs katanya.

Peluk hangat dan wangi,
Susi Marina Dewi






---
P.S: Surat ini merupakan balasan dari surat ini

15 June 2012

Senja di Batas Khatulistiwa #5 - Susi

Selamat malam Mas Djat,

Maaf aku baru membalas suratmu. Pasti kamu marah kepadaku. Tapi lebih baik terlambat membalas surat daripada terlambat datang bulan, kan?
....
Ketika aku membalas surat ini, pasti kamu sudah berada di Aceh. Bagaimana hari-harimu di sana, Mas? Aku di sini merindukanmu seperti tukang gado-gado yang kehilangan ulekannya. Tidak lengkap rasanya..

Aku juga berharap konflik yang ada di daerahmu cepat usai, agar kamu cepat bisa pulang, agar kita cepat bisa bertemu, agar makan tanaman. Oke, Mas. Itu pagar. Aku memang agak-agak garing di sini karena aku sebenarnya mulai bosan di sini. Aku mulai tidak suka berada di sini. Aku ingin cepat-cepat bertemu kamu dan melepaskan semua beban yang tertanam di kepala.

Juga, kemarin Papi telepon. Beliau kembali menanyakan kenapa aku masih belum mengenalkan calon suamiku ke hadapannya. Aku sedih, Mas. Aku ingin sekali rasanya membawa kamu dan mengenalkanmu padanya, berkata dengan yakin bahwa kamulah yang akan menjadi orang yang aku dampingi seumur hidupku. Tapi apalah daya, dari awal Papi sudah tegaskan agar aku memiliki suami yang seiman dengan kami.. Di percakapan telepon, Papi menanyakan kapan aku kembali ke Jakarta karena Papi ingin memperkenalkan aku ke seorang laki-laki, Mas. Aku takut, aku tidak mau bertemu dengan siapapun selain kamu. Yang aku mau sekarang hanya kamu, dan sekotak hangat martabak manis yang akan kita nikmati berdua. Tidak apa-apa digigit nyamuk sedikit. Selama kita nggak bisa bales gigit nyamuk yang gigit kita, lebih baik kita ikhlaskan saja karena mungkin dengan keikhlasan itulah perjalanan cinta kita bisa lebih mantap dan mapan ya, Mas.. :)

Besok pagi aku ada kegiatan Puskesmas Berjalan. Aku akan keliling Kabupaten bersama dengan rekan-rekan dari Puskesmas juga. Doakan supaya aku dapat mengobati orang-orang yang kurang sehat dan membutuhkan pertolongan ya, Mas. Doaku takkan berhenti untukmu, semoga kita baik-baik saja :)

Salam peluk penuh rindu,
Susi Marina Dewi






---
Surat ini merupakan balasan dari surat ini