25 April 2020

#ReviewnyahToskah: Lemantun

Saya baru saja menonton film ini di YouTube:


Judulnya Lemantun, bahasa Jawa yang artinya "Lemari". Tentang 5 (lima) orang anak yang menerima warisan lemari dari ibunya yang sudah tua. Dulu katanya ibunya beli lemari tiap anaknya lahir. Tidak dijelaskan di film pendek berdurasi 21 menit ini siapa saja nama-nama lengkap dari masing-masing anak, namun yang jelas, keempat anak-anak dari Ibu ini sudah berprestasi dan sukses dengan profesi di bidangnya masing-masing. Salah satunya anak terakhir, dr. Titik, yang berprofesi sebagai....dokter. YA DOKTER DONG, MASA BEAUTY VLOGGER? Walaupun bisa juga sih dokter jadi beauty vlogger, namun bukan itu point saya.

21 February 2020

One Magical Journey

Orang bilang Umrah adalah perjalanan spritual yang maknanya tidak akan sama pada tiap orang. Saya, sebagai orang yang beragama namun tidak terlalu taat, menganggap Umrah hanyalah sebuah ‘liburan’ biasa dengan latar belakang agama. Setidaknya, pemikiran tersebut menetap di pikiran saya hingga saya mengalaminya sendiri. Saya baru saja kembali dari menjalani ibadah Umrah bersama keluarga: orang tua dan adik saya. Pesawat kami landing tadi pagi, 20 Februari 2020, pukul 09.30 pagi.

Hari-hari pertama menjalani rangkaian wisata ibadah ini memang menyenangkan: kami landing di Madinah, jarak dari airport ke hotel tidak terlalu jauh, dan yang paling penting, jarak dari hotel tempat kami menginap ke masjid Nabawi, hanya 1 menit jalan kaki. Dekat sekali sampai kami bisa mendengar adzan yang berkumandang dari kamar kami. Suhu udara masih sejuk cenderung dingin karena kami datang di mana musim dingin baru berakhir dan musim panas belum datang. Semangat sekali saya jalan kaki ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Masjidnya bagus, bersih, dan teratur. Kebanyakan orang di sana — petugas hotel, penjaga toko, sampai petugas masjid, bisa berbahasa Indonesia walaupun mendasar sekali. Saya jatuh cinta pada damainya Madinah.

Tiba pada hari ke 4, di mana kami sekeluarga bersama rombongan harus berangkat ke Mekkah. Di sini keindahan itu mulai terkikis.....

Kami harus melakukan perjalanan kurang lebih 5 jam dengan bus. Di awal perjalanan, kami sudah harus memakai baju ihram, serta larangan-larangan yang telah berlaku: tidak boleh ada sehelai pun rambut yang terlepas dari tubuh, tidak boleh ada sesenti pun kuku yang patah karena dipotong atau digigit secara tidak sadar, tidak boleh memakai wangi-wangian (ini yang paling membuat iman saya tergoyahkan, karena saya paling takut sama yang namanya bau — selalu stand by minyak wangi di tas saking takutnya badan saya bau dan mengganggu orang sekitar), dan hal-hal lainnya. 

Kami tiba di Mekkah sudah malam sekali, lalu langsung ke hotel untuk check in dan tidak lama dari situ, diharuskan untuk berkumpul lagi dan melakukan Tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali) dan Sa’i (berjalan bolak-balik bukit Safa dan Marwa, sebanyak 7 kali juga). Pengalaman pertama kali melihat Ka’bah memanglah sangatlah luar biasa. Perasaan kagum, haru, dan bahagia kurang lebih bercampur jadi satu. Jarak dari hotel tempat kami menginap ke Masjidil Haram di mana Ka’bah berdiri kokoh selama ribuan tahun di dalamnya, juga sangat dekat. Namun kedua faktor tersebut tidak bisa membuat saya menyembunyikan emosi saya dari rasa lelah dan pegal karena energi yang sudah sangat menipis. 

Kami selesai Tawaf dan Sa’i kurang lebih pukul 1 dini hari. Kaki saya mau copot rasanya. Pegel luar biasa. Saya menjadi anak yang sangat cranky dan melemparkan attitude tidak ramah kepada sekitar terutama pada orang tua saya, yang saya yakini membuat orang tua saya malu punya anak se-nyebelin itu. Kami baru tidur sekitar jam 2 dini hari, sehingga adzan subuh pun tidak terdengar dan kami sekeluarga kesiangan, padahal di dalam kamar ada speaker yang tersambung ke sound system Masjidil Haram sehingga adzan dan shalat berjamaah yang sedang berlangsung, bisa terdengar. Emang kayaknya kami aja yang agak kebo’ sih tidurnya.
*ditabok*

Tawaf dan Sa’i kedua di 2 hari setelah Tawaf dan Sa’i pertama saya jalani dengan less cranky karena sudah cukup tidur dan belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak mau membuat orang tua saya malu. Walaupun pegelnya masih nggak masuk akal, saya sampai berpikir, mungkin ini cara Tuhan kasih tau saya bahwa I’m not good enough for this. Hahaha.
*ketawa pasrah nahan nangis*

Hari-hari di Mekkah yang seharusnya lebih menyenangkan karena saya bisa merasa lebih dekat dan ‘intim’ dengan Tuhan, justru lebih berat rasanya. Karena Mekkah ini lebih padat, lebih ‘berantakan’ karena lebih banyak jenis manusia yang datang ke situ, dan suhunya tidak sesejuk Madinah, yang tentunya lebih mudah membuat saya cranky karena rame banget boooosssshhhh nggak shanggup eke. Banyak orang-orang nggak tau aturan yang main selak antrian, untuk datang dan shalat di spot yang nyaman dan beralaskan karpet pun lebih kecil kemungkinannya. Mau minum air zamzam juga ngantri banget dan berdesakan, intinya sih ya Mekkah untuk saya, tidak senyaman Madinah. Saya mulai malas datang ke masjid dan lebih memilih untuk shalat di hotel saja yang pastinya lebih sejuk dan tenang. Sempat istighfar, namun tetep aja kalo nggak bareng sama Ibu saya, saya ogah jalan sendiri ke mesjid. 

Tiba pada akhirnya di hari terakhir, hari kepulangan ke Jakarta. Namun sebelum pulang, ustadz pembimbing kami meminta kami berkumpul jam 02.30 DINI HARI lalu melakukan Tawaf Wada yang merupakan gestur ‘pamitan’ kepada Tuhan karena kami akan meninggalkan tanah suciNya. Saya sudah pasrah dan honestly, mulai mempertanyakan kenapa Tuhan menetapkan cara begini banget sih buat komunikasi. Saya menjalani tawaf dengan biasa saja, tidak ada perasaan sedih ataupun haru lagi, karena tujuan saya hanya satu: TIDUR DI PESAWAT MENUJU PULANG.
Ustadz pembimbing memberi kami 2 pilihan untuk dilakukan jika sudah selesai Tawaf: Menunggu sekitar 2 jam menuju subuh namun bisa shalat subuh sambil memandangi Ka’bah, atau balik ke hotel, tidur, dan sholat subuh di hotel saja karena kalau sudah ‘pamit’ dengan melakukan Tawaf Wada, kami tidak diperbolehkan untuk mendatangi Masjidil Haram lagi. Oh tentu saja tekad saya sudah mantap untuk BALIK KE HOTEL DAN TIDUR LAGI. Karena capek dan ngantuknya ya Tuhaaaaan!

Kami selesai Tawaf Wada, saya shalat sunnah Tawaf 2 rakaat, seperti seharusnya. Ngantuk dan capek jadi satu. Maka kalimat pertama yang saya ucapkan setelah mengucap salam di tahiyatul terakhir adalah:
“Ya Allah, capek.....”
Yang tadinya maksud saya adalah saya ‘capek’ karena tawaf ini, namun mendadak seluruh memori buruk yang saya alami, dimuntahkan semua oleh Hippocampus otak saya, seolah-olah dia bilang,”Capek? Nih semua memori nggak enak yang bikin capek NIHHHH SEKALIAN NIHHHH!” 
...
Saya menangis luar biasa, dalam diam. Setengah mati menahan isak, karena Ibu saya berjarak tidak jauh dari saya jadi kalo beliau nengok dikit, beliau bisa liat anak perempuannya lagi cirambay berlinangan air mata dan ingus. Mana gak bawa tissue, jadinya meper ingus di ujung lengan baju, kadang kerudung yang saya pakai, yang memang agak panjang. 

Kalimat singkat yang terdiri dari tiga kata namun satu inti tersebut membuat saya berubah pikiran: saya akan tetap berada di sini. Nunggu 2 jam nggak masalah, yang penting bisa berlama-lama memandangi Ka’bah. 

Saya menghabiskan waktu menunggu subuh dengan banyak hal: main game, dzikir, main game sambil dzikir, apapun yang membuat saya tidak ketiduran dan kehilangan wudhu (karena kalau tidur yang sampai hilang sadar, katanya wudhu dianggap batal. Sementara tempat wudhunya ada di luar mesjid yang kalo saya keluar lalu balik lagi, belom tentu nemu spot di depan Ka’bah lagi).

Ketika saya main game, ada 1 ibu-ibu Arab yang berdiri di sebelah saya, membaca Al Qur’an. Ada kali tuh 15 menit dia berdiri. Saya agak heran juga ngapain dia baca Al Qur’an sambil berdiri padahal mah enakan duduk kan ya. Namun dengan banyaknya pengalaman liat kelakuan orang-orang yang ‘unik’ di Masjidil Haram ini, saya memutuskan untuk nggak mikirin kira-kira apa alasannya baca Al Qur’an sambil berdiri begitu, karena toh suaranya enak juga, lalu saya kembali ke game yang sedang saya mainkan dengan backsound suara Ibu tersebut baca Al Qur’an. Lumayan juga nih, perasaan jadi adem. 
Saya main game.
Ibu itu masih baca Al Qur’an sambil berdiri.
Saya masih main game.
Kemudian ibu itu meletakkan Al Qur’an yang tadinya dia baca, ke paha saya. 
HAH HAH APA-APAAN INI SEMBARANGAN BANGET WOY KAGET GUAAAAAH!
Saya nengok ke arah ibu itu, dan dia sedang dalam posisi Rukuk.
HAH HAH TERNYATA DARI TADI DIA BACA AL QUR’AN SAMBIL BERDIRI ITU......DIA SHOLAT????
Saya kaget. Yaiyalah kaget, masa huruf udah segede gitu tanda tanya sebanyak itu masih kurang menunjukkan ekspresi kaget?
Ibu itu masih sholat. Yaiyalah menurut ngana?
*digampar kursi lipet*
Kemudian ibu itu sujud. Lama sekali. Ada kali 5 menit. Asli. 
Di sujudnya, dia berbicara dalam bahasa Arab. Saya tidak tau artinya, namun saya bisa merasakan kelirihannya. Dia terdengar pasrah, dan benar-benar berserah. Saya mulai nyuekin game yang lagi saya mainin, dan fokus mendengarkan si Ibu.
Dia bangun dari kedua sujudnya, saya ngasih Al Qur’an-nya ke dia, supaya dia bisa baca lagi di dalam sholatnya. 
Durasi baca Al Qur’an sambil berdiri masih sama dari sebelumnya. Namun kali ini bye-bye Matchington Mansion. Saya mendengarkan si Ibu baca Al Qur’an. Jika rakaat pertama saya menganggap suara dia membaca Al Qur’an menyejukkan, di rakaat kedua ini, saya mendengar intonasi yang lebih sendu namun tetap kuat.

Air mata saya mulai berkumpul di sudut mata, seolah-olah mereka mau konvoi turun ke pipi saya, barengan sama ingus.
Dan benar, saya menangis, hanya karena mendengar bacaan Al Qur’an yang saya nggak tau itu surat yang mana ayat berapa artinya apa.
Si Ibu rukuk dan kembali memberikan Al Qur’an-nya kepada saya. Berbeda dengan rakaat pertama yang mana saya hanya meletakkan Al Qur’an di paha saya lalu saya lanjut main game, kali ini saya peluk Al Qur’an-nya, saya jaga baik-baik. Si Ibu sujud, suaranya makin lirih, saya makin nangis. Padahal ngerti dia doa ape juga kagak. Saya ngeliatin dia sujud, berdoa sungguh-sungguh, nadanya pasrah, seolah-olah dia benar-benar menyerahkan kehidupan nasibnya kepada Tuhan. Saya serasa ditampar melihat kejadian ini. Di sebelah saya ada yang benar-benar mempercayakan kehidupannya ke Tuhan, sementara saya masih mempertanyakan beberapa hal sepele yang berhubungan dengan agama ini. 

Si Ibu selesai sholat, saya kembalikan Al Qur’an-nya ke dia. Dia tersenyum dan mengucapkan,”Syukron”. Matanya berkaca-kaca, dia mengusap Al Qur’an-nya dan mengusap wajah saya sambil berbicara dengan bahasa Arab, yang walaupun saya tidak mengerti artinya, saya yakin dia mendoakan saya. Saya makin menangis, dia mengusap pipi saya, memandang saya sungguh sungguh dan berbicara dengan bahasa Arab yang lagi-lagi walaupun saya tidak mengerti artinya, namun saya merasakan ada energi yang menguatkan saya untuk menjauhkan diri dari keputus asaan. 

Adzan subuh berkumandang, kami pun mengikuti shalat berjamaah. Saya memang merasa istimewa ketika bisa shalat sambil memandangi Ka’bah, namun shalat kali itu benar-benar berbeda rasanya. Lebih istimewa dan ‘mewah’, karena saya mendapatkan pengalaman dengan si ibu ini. Saya menangis tidak berhenti dari mulai rakaat pertama. Saya merasakan kepasrahan yang mengalir deras dari air mata saya, merasakan bahwa sebagaimanapun saya melawan, saya hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan energi. Dan hanya dengan berserah diri lah saya mendapatkan dorongan energi baru untuk terus berjuang dan melawan diri sendiri dari keputusasaan.

Shalat subuh berakhir, Ibu saya menghampiri saya dan mengajak saya pulang ke hotel untuk siap-siap check out. Saya merapikan barang-barang saya yang honestly, prosesnya saya lama-lamain supaya Ibu saya jalan duluan. Dan benar, beliau jalan duluan. Saya berdiri untuk berjalan menyusul ibu saya, namun ada perasaan yang mengganjal. Lalu saya menghampiri si ibu tadi, dan menggenggam tangannya.
“Thank you so much”
Hanya kalimat itu yang bisa saya ucapkan di dalam tangis saya kepadanya. Dia juga ikut menangis, mengusap punggung tangan saya, dan tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya sambil berbicara bahasa Arab, yang saya yakini sebagai sarannya kepada saya untuk terus berdoa. Saya hanya bisa mengangguk sambil menangis, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan dia karena saya harus menyusul Ibu saya yang kalau jalan udah kayak pake sepatu roda saking cepetnya.

Saya kembali ke hotel, packing, dan lalu bergegas check out bersama keluarga saya. Di jalan saya terus memikirkan si Ibu itu, dia gimana sekarang, masalah apa yang sebenarnya lagi dia alami, apakah doa-doanya sudah terjawab, namun kemudian saya sadar bahwa yang penting bukanlah doa yang terjawab atau tidak, melainkan kerendahan hati kita sebagai manusia untuk selalu berserah diri karena tidak ada ketenangan hati yang lebih murni dari keyakinan akan doa sebagai fondasi utama dari segala sesuatu yang sedang kita usahakan atau lakukan.

Saya datang ke Mekkah dengan perasaan sombong sebagai manusia, dan saya meninggalkan Mekkah dengan perasaan haru, di mana Tuhan menyadarkan saya dengan mempertemukan saya dengan Ibu-ibu random yang baca Al Qur’an sambil berdiri namun dia menjadi sosok yang sangat hebat di mata saya, dengan keimanannya.
Terima kasih, Tuhan. Saya tidak akan melupakan pengalaman berharga ini sebagai pengingat saya bahwa do’a adalah sumber energi terbaik yang pernah ada. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. 

11 September 2018

Dear Brave One

Hello, Brave One.
How are you up there?
How does the sky look from there?
How does it feel to be closer to the moon and the stars?

I know it's not 6th of October yet, but I just want to write this letter to you.
Because lately, I've been thinking about you.
I miss you so much it still hurts.

Dear Brave One,
things are different now, you know.
And you must have known that I wish you're still here,
to be by my side,
to hear my story,
and walk through our journey.

Saya paham jika kamu tidak lagi mau singgah di mimpi saya,
karena kamu pasti tau, terakhir kamu singgah, saya menangis sendu ketika saya membuka mata dan tidak menemukanmu.
Saya rindu kamu, sangat rindu.

I once promised myself not to cry over you anymore,
I thought I have succeeded,
but not today.
I have completely failed.

If I could turn back the time and have a chance to not do something I have done, it's the one I did on your last day.
I wish I was there.
I wish I could do more.
I wish I was wiser.
And I'm, very sorry about that.
I'm a disappointment,
a failure,
and I'm sorry about that..

16 January 2018

I'm sad.
I'm sad everytime I think about you.
I'm sad everytime I think about the memories we had.
I'm sad everytime I try so hard to convince myself that I'll get through it.
Because simply, I don't want to.

I don't want to feel any pain.
But I am fully aware that it's impossible.
It's important to feel things, I know.
But sometimes it's necessary to not feeling anything.

You mattered to me. So much.
You came into my life just like that, an easy step.
When I was broken, and empty.
A broken emptiness, I called it..

I thought I could do better.
But the fact that I couldn't, made me upset.
I was sad.
And lonely.
I actually still am.

11 October 2017

Dua Puluh Tujuh

7 September 2017.

Hari di mana usia saya memasuki tahun ke dua puluh tujuh.
Semakin banyak hari yang dilewati, semakin banyak hal baru yang dipelajari, dalam kata lain: saya makin tua.
Namun tidak cukup tua untuk tidak bersyukur.
Apa yang saya hadapi selama ini, saya serap baiknya, saya buang buruknya.
Karena saya tidak tahu hidup saya akan sesingkat apa. 
Karena saya tidak tahu apakah saya akan mencapai titik kebahagiaan sejauh apa selama menjalani hidup saya. 

Saya menerima banyak ucapan yang diiringi senyuman, doa, sukacita bahkan kejutan-kejutan manis dari orang-orang terkasih. Dari mereka yang menyempatkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengejutkan saya dengan kue yang ditancapkan lilin dan dengan riangnya menyanyikan "Happy birthday", dia yang menelpon interlokal dari ranah Sumatera di tengah-tengah waktu liburannya, dan tentu saja, mereka yang dengan tulus mendoakan saya dari berbagai macam bentuk media. 

Saya merasa sangat istimewa dan tentunya bahagia. Dua puluh tujuh tahun sudah saya menjalani kehidupan sehari-hari. Jatuh-bangun, asam-garam, suka-duka, tawa paling bahagia juga tangis paling sendu pernah saya alami, dan tentu saja, saya syukuri.
Rasa syukur. Gratitude.
Itulah satu hal yang saya minta sama Tuhan sebagai kado ulang tahun saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang lebih bersyukur. Saya menjalani hari-hari saya dengan fisik yang sehat, sanctuary berupa orang tua dan adik laki-laki yang tak hentinya menghujani saya dengan kasih sayang dan doa, juga orang-orang yang mengelilingi saya dengan kebaikan hati dan ragam karakternya, yang tentu saja membuat saya belajar hal baru tiap harinya, dan membuat saya merasa membutuhkan rasa syukur yang lebih banyak lagi, dan lagi.

Saya sadar bahwa rangkaian kata yang diuntai sedemikian rupa diuntai menjadi ucapan terima kasih tak akan cukup untuk menggambarkan betapa tentramnya hati saya memiliki support system sekuat dan se-membahagiakan ini. Namun saya tetap melahirkan tulisan ini, untuk sedikit berdoa:
Semoga mereka yang membuat saya bahagia, lebih berbahagia lagi. 
Semoga doa-doa baik yang dipanjatkan ke saya, berkali-kali lipat dikembalikan kebaikannya kepada mereka yang mendoakan saya, oleh Tuhan.
Semoga mereka yang tulus ikhlas hadir di kehidupan saya, diberi cinta kasih yang meluap tak terbendung.
Aamin ya rabbal'alamin.

28 July 2017

A letter to an old friend

Hello, old friend.
It's been a long time.
Did you miss me? Because I missed you, so much.
I'm sorry I haven't talked to you in ages. It's because my head's been filled with things, and responsibilities.
I know it's not supposed to be an excuse, because you're always here, waiting for me to have a moment with you, just like our old days.

Old friend,
I'm no longer a girl you used to know.
I'm, obviously, older.
But I don't know whether age makes me wiser or not.

I'm still fighting, like you see.
For everyone's sake: the people I love, those who I care about.
The number's not as big as those days when you first met me, but the value is much meaningful.
Because I don't have time to think about things I'm not supposed to consider.

Old friend,
There are so many things I wanted to tell you.
But it's not like the old days that I could tell you rightaway,
I become more.....cautious.
And worried, sometimes.
That's why I kept the words in my head. Only in my head.

I'm happier now.
Of course I had my hard days, but as you always know, I'm stubborn enough to fight.
Are you proud of me? Because that's what I always been worrying about: whether I make the people I love proud of me or not.
I cried a bit on my hard days, but I know I always have the smile of a mother, the courage of a father, and the bravery of a brother that will always put me in their warmth.
You know how much I love them, old friend.
You know I'll fight for their happiness, no matter what.
That's what always put me into a whole person, over and over again.
No matter how exhausted and broken I am.

Old friend,
thank you for being a good company after all this time.
The warmth of your embrace and the peaceful silence of yours never fails to amaze me.
I'm sorry for being too busy, but it's always nice having you around.
And I know that I'll always have you,
until my last breath takes me to another place.
Thank you, Night.
You're so special to me.

Your (not so) Favorite Night Owl,
Anita

***

Just in case you people read this and wondering who am I writing to, you're not reading it wrong. It really is for the night. Yes, night time, the time when people are supposed to sleep, when the stars and moon are hanging beautifully up there. I know I'm weird, feel free to judge me however you want, but at least I'm being honest.

07 May 2017

I am not okay.
I've been exhausted.
Restless.
And hurt.

I was in my happiest days.
I thought I lived a proper life: 
Work, family, friends, and of course you.
Until that Sunday night, 
Everything I've been building, destroyed by only a single phone call. 

How dare you.
Coming into my life, to my monochrome world, 
bringing lights and colours,
then taking it all out so suddenly,
leaving me in darkness, sorrow, and despair?

I've been faithful to you,
and you left me broken into pieces.
What did I do to you, to deserve this?

I don't know who to trust anymore.
Not even myself.
Now I won't listen to Feist's "Now At Last" as the same beautiful song anymore.